Rabu, 28 Oktober 2015

Livorno, Lucarelli dan Komunis

Cristiano Lucarelli (sumber: beyondthefieldofplay.com)
Mungkin sebagian dari kita ada yang begitu kecewa mendengar fakta bahwa klub kesayangan kita tak hanya sekedar bermain bola tapi juga membawa unsur politik di dalamnya. Tapi ternyata fakta menunjukkan, ada beberapa klub sepakbola yang dibangun melalui unsur politik dan tetap eksis. Tak terkecuali di Italia. Ada banyak klub sepakbola Italia yang terbagi pada garis-garis politik. Livorno adalah salah satu klub yang berada dengan tegas di sebelah kiri dengan paham komunis. Jadi jangan heran ketika menonton pertandingan mereka di stadion atau melalui layar kaca, anda akan melihat spanduk dengan gambar Che Guevara atau palu arit berwarna merah mawar berkibaran di stadion. Livorno adalah simbol perlawanan politik kiri Italia melalui sepakbola. Dan dapat diartikan bahwa klub ini lambang dari pertentangan klub-klub berpolitik kanan, seperti Lazio atau Verona, atau dengan klub-klub kaya nan mapan seperti Juventus, Inter dan Milan.

Keterlibatan Livorno dengan komunisme diawali dengan terbentuknya Partai Komunis Italia. Didirikan oleh Antonio Gramsci dan Amadeo Bordiga, Partai Komunis Italia menjadi bentuk perlawanan terhadap fasisme Benito Mussolini. Partai Komunis Italia sendiri merupakan partai yang tidak mendukung maupun menentang perang. Bentuk perlawanan mereka terhadap pemerintah umumnya ditunjukkan dalam aksi protes dan dalam bentuk olahraga, khususnya sepakbola, mengingat bahwa penguasa saat itu juga mendirikan klub sepakbola yang menjadi ikon pemerintah fasis, yaitu SS Lazio.

Cerita menarik lainnya tentang Livorno yang membuat para 'kaum kiri' berloncat riang adalah ketika pada tahun 2005 Livorno berhasil mengalahkan AC Milan yang disebut tegas oleh media kiri Inggris, Guardian, sebagai klub “anjing peliharaan” penguasa Italia, Silvio Berlusconi. Kemenangan si kecil yang selalu terinjak  melawan raksasa penguasa jelas membuat para penggiat kiri sepakbola berbahagia. Ketika itu Livorno diperkuat oleh 'Che Guevara' mereka di lapangan hijau, Cristiano Lucarelli yang selalu dianaktirikan untuk membela timnas Italia karena mempunyai paham komunisme  kental.

Cerita dimulai ketika Cristiano Lucarelli muda tampil untuk tim Italia U-21 menghadapi Moldova pada sebuah laga internasional. Lucarelli yang sering disebut-sebut sebagai striker masa depan negeri pizza tersebut berhasil mencetak gol pada pertandingan itu. Setelah mencetak gol, Lucarelli melakukan selebrasi berlari sambil membuka jerseynya ke arah fans Italia, dan terpampang jelas wajah Che Guevara di kaos dalamnya. Sejak kejadian itu, setiap pelatih yang menukangi Gli Azzuri seperti mendapat larangan tidak tertulis dari FIGC (Badan tertinggi sepakbola Italia) untuk memanggil Lucarelli ke Timnas.

Livorno dan Lucarelli itu bagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Pendapat ini diamini oleh pelatih kenamaan Italia Serse Cosmi yang mengatakan bahwa Lucarelli adalah Livorno.  Pemain yang kerap melakukan selebrasi The Raised Fist ketika mencetak gol itu memilih menggunakan nomor punggung 99 untuk mengormati ultras garis keras Brigate Autonomn Livornesi yang berdir pada tahun 1999. Komunisme yang dipercaya oleh Lucarelli dan masyarakat Livorno lainnya  selama bertahun-tahun adalah sebuah paham yang sejatinya berpihak kepada masyarakat kecil nan miskin yang sering digambarkan Lucarelli sebagai 'Livorno' dan bukan berpihak kepada penguasa dan kapitalisme.

Pendapat lain yang makin menegaskan bahwa “Lucarelli adalah Livorno” terjadi di tahun 2003,. Saat itu, Lucarelli memutuskan untuk membela Livorno yang berada di serie B, padahal ia masih memiliki sisa kontrak selama 1 tahun di Torino. Dan apa yang dilakukan Lucarelli? Ia membeli kontraknya sendiri senilai 1 juta lira untuk segera berangkat ke Livorno. 
“Some players buy themselves a Ferarri or a yacht for a billion lira. I bought myself a Livorno shirt. That’s all.“- Cristiano Lucarelli.

Livorno dan Lucarelli adalah sebuah fenomena dan perbedaan yang membuat sepakbola semakin berwarna. Sayang, saat ini Livorno masih berjuang di serie B atau kasta kedua tertinggi di sepakbola Italia. Kita doakan saja semoga di musim depan klub ini dapat kembali promosi ke serie A dan kembali menyemarakkan indahnya perbedaan pada dunia sepakbola.

DITULIS OLEH: ANDIK

Selasa, 27 Oktober 2015

Top Ten Amunisi Baru Pilihan Tim NBA Musim 2015/2016

Musim baru NBA akan bergulir kurang dari 24 jam lagi. Terlintas di pikiran saya untuk membahas beberapa amunisi baru yang mungkin akan berguna (atau sebaliknya, tidak) bagi tim-tim NBA musim 2015/16 kali ini. Para pemain baru atau yang lebih sering disebut rookies ini tiap tahunnya melalui proses seleksi oleh tim-tim NBA yang disebut dengan NBA draft pick. Ada 60 nama yang di-draft pada musim 2015/16 kali ini. Sebagian besar dari mereka adalah pemain College Basketball di Amerika namun beberapa nama juga berasal dari luar negeri. Berikut 10 rookie terbaik versi kami.

1.       Karl-Anthony Towns
Pemain yang mendapatkan overall pick ke-1 ini dipilih oleh Minnesota Timberwolves untuk memulai karir profesionalnya di liga basket tertinggi di Amerika. Dengan postur 7-0 ft/ 250 lb, Karl memiliki postur yang cukup baik untuk bermain di posisi center. Karl adalah seorang rebounder yang cukup handal, dibuktikan dengan fakta bahwa ia mencatat 6,7 RPG (Rebound Per Game) bersama tim asalnya, Kentucky Wildcats. Selain itu, Karl juga mencatatkan 2,3 BPG (Block Per Game), serta 10,3 PPG (Point Per Game) selama bermain bersama Kentucky. Dari segi fisik, Karl memiliki wingspan sebesar 7’ 3,25” yang bisa terbilang di atas rata-rata. Meski wingspan Karl masih dibawah Kevin Durant (yang memiliki wingspan sebesar 7’ 5”) dan juga Anthony Davis (7’ 5” wingspan), namun usia Karl yang sekarang baru menginjak 19 tahun memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh dan lebih berkembang di musim-musim yang akan datang.
Karl-Anthony Town (sumber: whenballislife.com)
2.       D’Angelo Russell
Point Guard asal Ohio State Buckeyes ini mendapatkan overall pick ke-2 yang dipilih oleh Los Angeles Lakers. Russell memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk seorang point guard, yaitu dengan postur 6-5 ft/ 180 lb. Yang cukup menarik dari rookie yang satu ini adalah ukuran wingspan-nya yang sebesar 6’ 10”, yang bahkan lebih besar dari John Wall (Washington Wizard) dan Klay Thompson (Golden State Warriors). Dari segi skil, Russell adalah seorang penembak 3 angka serta passer yang cukup baik. Dia mencatatkan .411 3PT% selama bermain bersama Ohio State, 19,3 PPG, 5,7 RPG dan 5,0 APG. Meski beberapa sumber menyebutkan bahwa Russell terbilang kurang eksplosif untuk level NBA, namun Russell memiliki banyak potensi untuk berkembang menjadi seorang bintang NBA. Pertanyaannya adalah, apakah dia mampu untuk melakukan itu bersama tim yang bisa dibilang sedang terpuruk prestasinya saat ini? Mari kita nantikan di musim 2015/16 ini.
D'Angelo Russell (sumber : nba.com)
3.       Jahlil Okafor
Center tim Duke Blue Devils ini mendapatkan overall pick ke-3 yang dipilih oleh Philadelphia 76ers. Okafor memiliki postur yang cukup baik untuk bermain sebagai center di level NBA yaitu 6-11 ft/ 270 lb. Selain itu, Okafor memiliki 7’ 5” wingspan, ya, sama seperti Kevin Durant. Meski Okafor bukanlah seorang pemain cepat dan eksplosif, namuntentu saja ia masih memiliki potensi untuk berkembang di NBA nantinya.
Bersama Duke, Okafor mencatatkan 17,3 PPG, 8,5 RPG, serta 1,4 BPG, suatu statistic yang menjanjikan. Ditambah lagi, Okafor juga mendapatkan banyak prestasi individu saat bermain bersama Duke, di antaranya ACC Rookie Of The Year, ACC Player Of The Year, All-ACC 1st Team, All-American 1st team, dan Wayman Tisdale Award. Okafor termasuk salah satu pemain yang cukup bersinar di ajang NCAA, dan memiliki banyak potensi untuk menjadi seorang bintang di NBA. Mari kita tunggu aksinya di NBA musim 2015/16.
Jahlil Okafor (sumber: basketsession.com)
4.       Kristaps Porzingis
Sebagai salah satu nama rookie yang berasal dari luar Amerika Serikat, Porzingis sebelumnya bermain untuk Baloncesto Sevilla di Spanyol. Ia mendapatkan overall pick ke-4 yang dipilih oleh New York Knicks dan menjadi salah satu pemain termuda di draft ini. Porzingis memiliki postur 7-0 ft/ 240 lb dan ia pun memiliki gaya bermain seperti seorang Pau Gasol (Chicago Bulls). Selain tingkat local, ia juga mempunyai pengalaman di tingkat internasional, yaitu bermain untuk timnas U-18 Latvia. 
Porzingis mencatatkan 11,6 PPG, 4,1 RPG, dan 1,2 BPG selama bermain di Eurocup bersama Sevilla. Porzingis juga dianugrahi Eurocup Rising Star Award tahun 2015.
Kristaps Porzingis (sumber: lockerdome.com)
5.       Mario Hezonja
Shooting Guard yang bermain untuk FC Barcelona Basquet ini mendapatkan overall pick ke-5 yang dipilih oleh Orlando Magic. Mario mempunya postur yang cukup baik yaitu 6-8 ft/ 200 lb, suatu postur yang cukup ideal untuk bermain di wing. Ia juga memiliki power yang cukup besar serta memiliki gayabermain yang cukup eksplosif. Saat bermain di ajang Euroleague, Mario mencatatkan 7,7 PPG, .382 3PT%, serta 1,0 APG.Ia pun sempat menjadi MVP di ajang FIBA Europe Under-16 Championship tahun 2011.
Mario Hezonja (sumber: lockerdome.com)
6.       Willie Cauley-Stein
Center dari Kentucky Wildcats ini mendapatkan overall pick ke-6 yang dipilih oleh Sacramento Kings. Cauley-Stein memiliki postur 7-1 ft/ 240 lb, postur yg cukup baik untuk seorang center. Secara statistik, Cauley-Stein mencatatkan 8,9 PPG, 6,4 RPG, dan .572 FG (Field Goal). Cauley-Stein juga memiliki gaya permainan yang cukup eksplosif. Selain itu, ada fakta yang menarik di mana Cauley-Stein adalah satu-satunya pemain dalam sejarah Kentucky Wildcats yang mampu mencatatkan setidaknya 500 rebound, 200 blocks, dan 100 steals.
Willie Cauley-Stein (sumber: grizzlybearblues.com)
7.       Emmanuel Mudiay
Seorang Point Guard yang sebelumnya bermain untuk Guangdong Tigers ini mendapatkan overall pick ke-7 yang dipilih oleh Denver Nuggets. Dengan postur 6-5 ft/ 200 lb, Mudiay termasuk memiliki postur yang cukup besar untuk seorang point guard. Ditambah permainannya yang cukup eksplosif, Mudiay memiliki potensi untuk menjadi salah satu pemain elit di NBA. Tercatat statistik sebanyak 18,0 PPG, 6,3 RPG, dan 5,9 APG ia hasilkan saat bermain di China. Namun juga terdapat beberapa kelemahan yang dimiliki Mudiay, yaitu  persentase 3 point yang hanya .342 3PT%, masalah efisiensi dalam bermain, serta yang cukup berbahaya adalah masalah cedera ankle yang diderita di akhir musim lalu.
Mudiay memang termasuk salah satu rookie yang cukup menarik untuk disaksikan. Namun pertanyaannya, apakah Mudiay mampu untuk bersaing di level NBA sebagai seorang point guard atau bahkan mampu untuk masuk ke dalam jajaran pont guard elit NBA? Secara fisik dan mental kami berpendapat bahwa dia mampu. Mari kita tunggu aksinya.
Emmanuel Mudiay (sumber: nypost.com)
8.       Stanley Johnson
Seorang small forward dengan postur 6-7 ft/ 245 lb asal Arizona Wildcats ini mendapatkan overall pick ke-8 yang dipilih oleh Detroit Pistons. Johnson mempunyai segalanya untuk bermain di wing. Sebut saja ukuran tubuh, kekuatan, atletisme, serta ketajaman dalam menembak 3 angka. Selain itu, Johnson pun sangat efektif dalam transisi di dalam game serta cukup solid dalam bertahan. Johnson mempunyai catatan menarik, di mana ia termasuk satu di antara hanya dua orang freshman di Divisi I yang mampu mencatatkan rata-rata 13,5 poin dan 6,5 rebound di musim 2014/15, selain Jahlil Okafor. Johnson mencatatkan 13,8 PPG, 6,5 RPG, 1,7 APG, dan .446 FG. Ia juga meraih beberapa prestasi individu, yaitu Julius Erving Award tahun 2015, McDonald All-American tahun 2014, dan MVP FIBA Americas Under-18 Championship tahun 2014.
 
Stanley Johnson (sumber: basketball-society.com)
9.       Frank Kaminsky
Power Forward asal Wisconsin Badgers ini mendapatkan overall pick ke-9 yang dipilih oleh Charlotte Hornets. Kaminsky memiliki postur 7-1 ft/ 242 lb. Footwork dan post moves yang cukup baik merupakan kekuatan Kaminsky. Selain itu, Kaminsky memiliki kemampuan menembak 3 angka serta kemampuan passing yang juga tak kalah baik. Statistik mencatat sebanyak 18,8 PPG, 8,2 RPG, 2,6 APG, serta .416 3PT% telah ia hasilkan. Perlu dicatat, bahwa seorang Kaminsky adalah satu-satunya pemain Divisi I NCAA yang memiliki rata-rata diatas 17 poin, 8 rebound, 1,5 blocks, dan 2 assist di dalam 1 musim.
Frank Kaminsky (sumber: projectshanks.com)

10.   Justise Winslow
Small Forward asal Duke Blue Devils ini mendapatkan overall pick ke-10 yang dipilih oleh Miami Heat. Dengan postur 6-7 ft/ 230 lb, Winslow mempunyai kemampuan menembak 3 angka yang cukup baikIa punmempunyai atletisme tubuh yang cukup baik. Tubuhnya yang sudah terbentuk sebagai seorang pemain profesionalmendukungnya untuk menjadi seorang finisher serta yang juga terbilang bagus dalam melakukan rebound.
        Selama bermain bersama Duke, Winslow mencatatkan 12,6 PPG, 6,5 RPG, 2,1 APG, dan .418 3PT%. Winslow merupakan pemain kidal yang memiliki kemampuan menembak yang cukup baik, serta bisa dibilang cukup cepat dalam transisi. Jika dilihat dengan seksama, Winslow akan mengingatkan kita kepada bintang Houston Rockets, yaitu James Harden.
     
Justise Winslow (sumber: dukebasketballreport.com)
Ranking dalam draft pick tentu saja belum menentukan kalau pemain tersebut akan berprestasi ataupun tidak berprestasi di ajang NBA. Kita ambil contoh pada musim 2014/2015, seorang pemain Kanada yang bermain untuk Kansas Jayhawks bernama Andrew Wiggins, mendapatkan overall pick pertama yang dipilih oleh Cleveland Cavaliers. Walaupun akhirnya Wiggins ditukarkan ke Minnesota Timberwolves, namun Wiggins mampu bersinar di Wolves dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi Wolves. Wiggins mampu mencatatkan 16,9 PPG dengan .437 FG% dan .310 3P%. Wiggins juga mampu meraih penghargaan Rookie Of The Year. Mundur ke satu musim sebelumnya, Anthony Bennet, pemain University of Nevada, Las Vegas menjadi pilihan nomor 1 dari dalam draft yang juga dipilih oleh Cleveland Cavaliers. Namun apa yang terjadi di musim itu? Penghargaan Rookie Of The Year disabet oleh pemain dengan overall pick ke-11, Michael Carter Williams yang dipilih oleh Philadelphia 76ers.
Jadi, kita tunggu saja bagaimana aksi para rookie baru ini sepanjang musim 2015/16 yang akan bergulir besok??

DITULIS OLEH : ISA

Lazio dan Edisi Piala Winners Terakhir

Lazio ketika menjuarai Piala Winners 1999 
19 Mei 1999, stadion Villa Park, Birmingham, Inggris kedatangan dua kesebelasan yang akan bertarung mati-matian memperebutkan edisi terakhir piala winners. Mereka adalah wakil Italia SS Lazio dan wakil dari Spanyol RCD Mallorca. Piala yang telah berlangsung selama 38 tahun itu akan ditiadakan oleh FIFA dan akan digabungkan menjadi satu dengan piala UEFA di tahun berikutnya. Adapun para peserta Piala Winners ini, seperti namanya, adalah para pemenang kompetisi piala (cup competition) dari negaranya masing-masing. Sebagai contoh, Spanyol mengirimkan pemenang Copa del Rey, Italia mengirimkan pemenang Copa Italia, Inggris mengirimkan pemenang Piala FA, dan begitupun juga dengan negara-negara Eropa lainnya.

Di Villa Park, para pemain dari Lazio dan Mallorca terlihat memasuki lapangan.
Lazio yang pada saat itu menggunakan kostum berwarna kuning memang sedang dihuni oleh pemain-pemain top dunia seperti Nesta, Mihajlovic, Mancini, Nedved hingga Vieri. Yang menarik adalah dijadikannya Roberto Mancini menjadi center midfielder pada pertandingan kali ini.  Ya, memang ketika di tahun-tahun terakhirnya menjadi pemain sepakbola, Mancini memang lebih sering memainkan peran sebagai gelandang tengah, ketimbang posisi aslinya sebagai striker. Sementara dari wakil Spanyol, Mallorca dihuni oleh kiper timnas Argentina di piala dunia 1998, Carlos Roa. Match ini jelas akan menjadi pertandingan yang tidak mudah bagi Lazio, mengingat lawan mereka berhasil lolos ke final dengan mengandaskan wakil Inggris, Chelsea.

Kickoff dimulai, pertandingan berjalan dengan tempo lumayan cepat. Tidak disangka, di menit ke-7 sudah ada gol yang tercipta bagi kesebelasan Lazio. Christian Vieri, striker timnas Italia itu berhasil mencetak gol lewat tandukan mematikannya. Umpan jauh yang dilesakkan Guiseppe Favalli dari sisi kanan berhasil ia konversi menjadi gol dengan lompatannya yang lebih tinggi dari kapten Mallorca, Javier Olaizola. Javier tadinya terlihat berada pada posisi yang lebih menguntungkan untuk menghalau bola, namun kalah duel dengan Vieri. Papan skor berubah menjadi 1-0 untuk wakil Italia yang saat itu dilatih oleh pelatih asal Swedia, Sven-Goran Eriksson.

Mallorca pun bereaksi cepat, para pemain didikan Hector Cuper itu tak butuh waktu lama. Empat menit kemudian, tepatnya di menit ke-11, striker Los Bermellones, Dani Garcia, berhasil menyamakan kedudukan dengan sontekannya. Berawal dari penetrasi yang dilakukan Jovan Stankovic dari sisi kanan pertahanan Lazio yang tak mampu dikejar oleh Guiseppe Pancaro, pemain asal Serbia-Montenegro itu berhasil mengirim umpan mendatar kepada Dani Garcia yang lepas dari pengawalan Sinisa Mihajlovic. Papan skor pun berubah menjadi 1-1 dan skor imbang bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Sergio Conceicao dimasukkan untuk menambah daya gedor tim biru langit. Di menit ke-78 terjadi kejadian menarik, di mana karena keasikan menyerang, Pavel Nedved tidak melihat Atillio Lombardo yang sudah bersiap di pinggir lapangan untuk menggantikannya. Saat pertandingan sepertinya akan dilanjutkan hingga memasuki babak perpanjangan waktu, pada menit-80, Lazio membangun serangan yang begitu cepat. Marcelo Salas yang membangun serangan dari second line sebelah kiri, mengirim umpan mendatar kepada Christian Vieri yang berada di sisi kiri pertahanan Mallorca. Mendapatkan peluang, striker dengan nomor punggung 32 itu langsung menembakkan bola ke arah gawang Carlos Roa. Bukannya mengarah ke gawang, bola malah melambung ke atas karena terkena pantulan pemain bertahan Mallorca. Namun tepat di sebelah kiri Vieri muncul gelandang tenaga kuda dari Rep. Ceko, Pavel Nedved, yang dengan sigap menembakkan tendangan Canon Ball-nya. Dan... Gol!!! Para pemain Lazio berhamburan memeluk gelandang Rep. Ceko itu. Skor kembali berubah 2-1 untuk Lazio.

Di menit ke-84, Pavel Nedved akhirnya digantikan Atillio Lombardo, Skema bertahan pun dijalankan. Mallorca mencoba membalas di sisa waktu yang ada. Tapi tebalnya tembok pertahanan Lazio memang sangat sulit untuk ditembus. Ditambah lagi di menit-90, masuknya Fernando Couto menggantikan Roberto Mancini membuat semakin tebalnya tembok pertahanan Lazio yang tentu saja semakin sulit untuk ditembus oleh Mallorca. Hingga peluit panjang babak kedua dibunyikan, skor 2-1 untuk kemenangan Lazio bertahan. Piala Winners edisi terakhir pun menjadi milik Bincocelesti, sebuah piala yang tak akan pernah diperebutkan lagi oleh klub manapun. Sebuah pertandingan final yang cukup menarik. Atmosfir penonton yang luar biasa dan para pemain kedua kesebelasan yang bermain dengan tempo yang cukup cepat, membuat pertandingan ini begitu berbekas bagi para pencinta sepakbola.

Keputusan UEFA untuk meleburkan piala winners dan UEFA cup menjadi satu pada musim 1999-2000 membuat saya begitu merindukan piala para juara tersebut. Piala ini begitu spesial bagi saya, karena hanya diperebutkan oleh para juara saja. Para juara yang saling serang untuk menjadi pemenang. Selamat Lazio, sang juara dari para juara benua biru yang terakhir.

Formasi :
Formasi Lazio ketika Piala Winners 1999

Formasi Mallorca ketika Piala Winners 1999


DITULIS OLEH : ANDIK

Senin, 26 Oktober 2015

Drama Valentino Rossi vs Marc Marquez di Sepang

Insiden Valentino Rossi dan Marc Marquez (sumber: indobolanews.com)
Dramatis. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan motoGP seri Sepang 2015. Betapa tidak, sejak sesi press conference Kamis 22 Oktober, Valentino Rossi –pada saat itu memimpin klasemen dengan selisih 11 poin- yang biasanya kalem dan tidak pernah menyerang pembalap lain secara frontal, tiba-tiba saja menyerang Marc Marquez dengan tuduhan “membantu Lorenzo untuk mendapatkan gelar Juara Dunia 2015” sewaktu di Phillip Island.

“Jika kita memiliki balapan seperti Phillip Island lagi, kita harus berbicara dengan Marquez, sebab selama balapan hal ini sulit dimengerti. Namun setelah aku menonton rekaman ulang setelahnya, jelas bahwa dia memang bermain-main dengan kita,” ujar Rossi. “Karena saya curiga target dia saat ini tidak hanya memenangkan race, tapi juga membantu Lorenzo mendapatkan lebih banyak poin. Jadi bagiku Phillips Island jelas, Jorge mendapatkan pendukung baru, dan dia adalah Marc. Dan ini mengubah segalanya. Karena saya yakin, Marc memiliki potensi untuk menjauh sendirian di depan tapi itu tidak dilakukannya,“ lanjut Rossi seraya tersenyum. 

Tuduhan Rossi ini tidak main-main, dia bahkan juga telah menyiapkan timesheets ketika wawancara dengan wartawan Italia, untuk menunjukkan laju Marquez yang memang terlihat lebih pelan di tengah balap. Tidak hanya Rossi yang punya kecurigaan yang sama, Andrea Iannone, pembalap asal tim Ducati pun juga mengamini pernyataan Rossi.

“Saya yakin, Marquez juga bermain-main dengan kami. Karena setelah 15 lap, tikungan kelima, laju dia semakin pelan, dan saya melewatinya dengan sangat mudah. Saya tidak tahu kenapa seperti itu,” ucap Iannone dengan serius.

Tuduhan-tuduhan ini tentu saja menjadi masuk akal apabila kita mengingat fakta bahwa jika The Doctor mendapatkan gelar juara dunia kesepuluhnya tahun ini maka tentu saja ini akan menjadi tambahan beban buat Marquez untuk memecahkan rekornya. Lain halnya jika Lorenzo yang memenangkannya. Toh dengan umur enam tahun lebih muda, Marquez bisa menyamai rekor juara dunia Lorenzo dengan empat kali juara dunia hingga sekarang.

“Di Laguna Seca 2013 banyak yang memperingatkan saya, Marc ingin menunjukkan apa yang telah saya lakukan kepada Stoner lima tahun sebelumnya, padahal dia mempunyai kesempatan melewati dengan mudah di tikungan lain. Itu merupakan sinyal pertama. Tapi (pada saat itu) saya tidak ingin mempercayainya,” Kata Rossi kepada jurnalis Italia.

Mencoba membandingkan dengan rival-rival sebelumnya, Rossi menambahkan lagi, “Saya lebih suka perilaku Biaggi, meskipun kami  terlihat panas di lintasan paling tidak posisi kami jelas dan jujur.”

Sesi Kualifikasi 2
Konspirasi seakan tidak berhenti setelah Rossi melakukan serangan frontal di sesi press conference. Marquez justru melanjutkan aksinya di sesi kualifikasi dengan membiarkan Lorenzo di belakangnya, hal ini tentu saja menguntungkan Lorenzo karena slipstream.

Ada hal lucu yang terjadi di sesi kualifikasi ini. Lorenzo sempat mengira dirinya mendapatkan P3, dan dengan pede-nya masuk Parc Ferme, namun dihalau sama panitia karena ia ternyata hanya mendapatkan P4, setelah beberapa detik sebelum sesi kualifikasi selesai The Doctor-lah yang berhasil mengamankan untuk start dari baris depan bersama Pedrosa dan Marquez.

Jalannya Balapan
Minggu pagi diawali dengan WUP di mana Marquez berhasil mencatatkan waktu tercepat, sementara Lorenzo, Valentino Rossi, dan Pedrosa mengikuti di belakangnya dengan selisih waktu masing-masing 0.319; 0.562; 0.701, berturut-turut.

Balapan dimulai dengan duo Honda yang langsung melesat di tikungan pertama, diikuti Rossi dan Lorenzo yang sebelumnya berhasil menyalip duo Ducati. Pada lap kedua, Lorenzo mampu menekan The Doctor untuk mengambil alih posisi ketiga. Sementara Andrea Iannone terpaksa menghentikan balapan karena terdapat masalah pada motornya.

Pada lap ketiga, Lorenzo berhasil menyalip Marquez dengan mudah, yang merupakan hal   aneh mengingat saat WUP Marquez mencatatkan waktu tercepat, dan berdasarkan timesheet, terlihat jelas  catatan waktu Marquez melambat. (timesheet

lap times Rossi, Marquez, Pedrosa, dan Lorenzo.
Duel sengit terjadi setelah Marquez berada di depan Rossi. Berkali-kali salip-menyalip, seolah Marquez tidak rela posisinya diambil Rossi. Sampai pada lap ketujuh, insiden terjadi. Rossi sengaja melambatkan laju motornya untuk menutup ruang gerak Marquez, namun ia mendapatkan reaksi yg sepertinya tidak terduga . Marquez tampak menyundul  kaki Rossi dengan helmnya, entah disengaja atau tidak, kemudian kaki Rossi pun terlihat reflek bergerak, hingga Marquez tersungkur dari motor dan menghentikan balapan. Aneh, seorang Marquez yang biasanya ambisius, terlihat biasa saja ketika jatuh, tanpa ekspresi kecewa yang biasanya ditunjukkan ketika jatuh. Meskipun motornya masih bisa melaju, tapi ia langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan balapan.

Insiden Rossi - Marquez di Sepang 
Sampai berakhirnya balap, Pedrosa tidak tersentuh di posisi terdepan, diikuti Lorenzo dengan selisih lebih dari 2 detik dan Rossi di belakangnya.

Post Race
Race Direction memutuskan bahwa Rossi bersalah dalam insiden tersebut.
“Reaksi Valentino terhadap provokasi Marc Marquez menyebabkan pembalap lain crash. Kami percaya sentuhan tersebut disengaja meskipun dia tidak ingin menjatuhkan Marquez dan hanya ingin membuatnya melebar. Tentang kaki Rossi yang sempat lepas dari foot-peg dari video yang kami lihat tidak ada bukti jelas ke arah sana. Kami melihat sebagai efek senggolan dan bukan merupakan kesengajaan.” Terang Mike Webb, Race Direction.

“Kami juga merasakan Marquez berusaha mempengaruhi kecepatan Valentino. Tapi bagaimanapun, dari sisi regulasi dia tidak melanggar peraturan” lanjut Webb.

Untuk insiden tersebut, Rossi mendapatkan 3 poin penalti. Hal ini berarti menggenapkan poin penalti yang ia dapatkan menjadi 4, setelah sebelumnya juga mendapatkan penalty 1 poin di Misano, sehingga harus memulai balapan dari posisi buncit di seri terakhir yang akan berlangsung di Valencia nanti. Tentu saja hal ini menyulitkan –jika  tidak bisa dibilang memupuskan- The Doctor meraih gelar juara dunianya yang kesepuluh.

“Marquez telah memenangkan ini. Dia membuat saya kehilangan kesempatan untuk juara dunia,” ucap Rossi beberapa saat setelah balapan.
Buat beberapa fans, tentu saja respek kepada The Doctor tidak akan hilang karena insiden ini. Once a hero, always be a hero.


DITULIS OLEH : ICHSYAN


Sabtu, 24 Oktober 2015

Klopp Yang Belum Klop

Jurgen Klopp (sumber: mirror.co.uk)

Hasil dua kali seri yang didapatkan Liverpool di dua pertandingan terakhir, jelas jauh dari harapan yang diimpikan fans Liverpool. Pertandingan melawan Southampton di EPL kali ini jelas menjadi ujian bagi sang manager anyar The Reds Jurgen Klopp untuk mendapatkan kemenangan pertamanya bagi klub kota pelabuhan itu.

Dari sisi pemain kunci, The Reds harus bisa memaksimalkan kemampuan gelandang kreatif mereka Philippe Coutinho untuk dapat membobol gawang Southampton yang dijaga Kelvin Davis. Statistik di tiga pertemuan terakhir di antara kedua tim menunjukkan Liverpool berhasil menyapu semuanya dengan kemenangan. Namun, Klopp mengisyaratkan kepada pemainnya agar tidak terlalu jumawa dengan statistik yang ada dan harus bermain lebih hati-hati menghadapi tim kuda hitam seperti Southampton. Terlebih lagi apabila kita mengingat fakta bahwa di empat pertandingan terakhir anak-anak asuhan Ronald Koeman ini mengukir 3 kali kemenangan dan hanya sekali mendapatkan hasil seri. Striker andalan mereka Graziano Pelle juga sedang on fire dengan 5 gol dan 2 Assistnya dalam 9 pertandingan.


Laga ini akan menjadi pembuktian pelatih Liverpool asal Jerman, Jurgen Klopp, apakah ia mampu mendatangkan kemenangan bagi fans fanatik Liverpool. Apabila hasil seri  yang kembali didapatkan, bukan tak mungkin nantinya dia akan diberi julukan 'The Special Draw'.

Perkiraan line up:

Perkiraan line up Liverpool

Perkiraan line up Southamton

DITULIS OLEH : ANDIK

Menanti Keganasan Serigala di Artemio Franchi

Francesco Totti dibayangi Borja Valero (sumber: ilsussidiario.net)
Sang pemuncak klasemen sementara La Viola kedatangan tamu dari tim ibukota yang sekaligus menduduki posisi tepat di bawahnya, AS Roma. Dan menjadikan perebutan posisi puncak klasemen semakin sengit di gameweek ke-9 Serie A. Karena jika saja pertandingan ini berakhir dengan hasil seri, bukan tidak mungkin posisi puncak klasemen bakal disalip oleh Inter Milan yang hanya berjarak 1 poin dari La Viola. Karena di pertemuan lain, Inter Milan bertandang ke tim yang notabene lebih 'ringan' yaitu Palermo, yang di atas kertas dapat diatasi oleh tim asuhan Roberto Mancini tersebut. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi kedua tim, Fiorentina dan AS Roma. Jika tak ingin turun peringkat, hasil seri bukanlah hasil yang menguntungkan bagi kedua tim.

Selain tentang panasnya perebutan puncak klasemen Serie A, di pertandingan kali ini kehadiran Mohammed Salah di tim AS Roma akan menjadi pusat perhatian di Artemio Franchi. Terutama, jika kita mengingat fakta bahwa pemain tersebut musim lalu menjadi instrumen penting bagi Fiorentina dengan 9 gol dari 26 pertandingannya. Saat ini Salah telah mengoleksi 4 gol untuk AS Roma. Dan jika benar dia diturunkan pada pertandingan kali ini, bukan tidak mungkin ini akan menjadi laga emosional bagi sang pemain.

Dari sisi pemain, di kubu tuan rumah trio Ilicic-Alonso-Kalinic masih menjadi momok yang menakutkan bagi gawang-gawang lawan dengan koleksi 10 gol ketiganya hingga gameweek ke-8 Serie A. Sementara di kubu tamu, trio Salah-Pjanic-Gervinho lebih ganas dengan total koleksi 11 golnya. Ditambah catatan rekor lima pertandingan terakhir yang kelimanya dimenangkan oleh AS Roma, tim serigala sepertinya lebih dijagokan di dalam pertandingan kali ini dari sisi psikis. Bukan untuk memperburuk, namun dua kekalahan beruntun La Viola dari Napoli dan klub Polandia Lech Voznan kemarin juga akan mengganggu mentalitas kubu tuan rumah.

Keuntungan Fiorentina di pertandingan kali ini adalah bermain di rumah sendiri. Puluhan ribu fans Fiorentina yang terkenal fanatik akan siap mendukung dan memadati stadion Artemio Franchi yang pastinya akan mengganggu konsentrasi para pemain AS Roma. Dan sang pelatih Paulo Sousa tentu saja tak akan membiarkan timnya kembali dipermalukan di kandang secara beruntun. Keganasan AS Roma minggu lalu menggasak Empoli dengan skor 3-1 ditambah rekor pertandingan yang ciamik tadi akan kembali diuji di gameweek kali ini saat bertandang ke stadion Artemio Franchi kebanggaan La Viola.

Akankah Serigala kembali mengganas?

Perkiraan line up:
Perkiraan line up Fiorentina 

Perkiraan line up AS Roma

DITULIS OLEH : ANDIK

Old Trafford Kembali Kedatangan Tamu Berisik



(sumber: scaryfootball.com)
Minggu ini di EPL akan terjadi duel sengit antara dua tim yang berasal dari kota Manchester. Yap, Derby of Manchester yang akan digelar di stadion Old Trafford itu mempertemukan sang tuan rumah Manchester United dengan sang pemuncak klasemen Manchester City untuk yang ke 170 kali sepanjang pertemuan kedua tim.
Walaupun Louis van Gaal mengatakan bahwa timnya sebagai underdog di pertandingan kali ini, tapi bermain di kandang sendiri akan menjadi keuntungan bagi setan merah. Apalagi ditambah cederannya striker andalan City Sergio Aguero dan gelandang kreatif mereka David Silva tentu saja menjadi point plus bagi Manchester United.


Kevin de Bruyne (sumber: sport.bt.com)
Pertarungan sengit akan terjadi di lapangan tengah, dimana kita ketahui kedua tim memiliki gelandang-gelandang top class. Dari kubu tuan rumah, Schneiderlin, Carrick, Juan Mata dan Herreira akan siap beradu dengan gelandang dari tim tamu seperti Kevin De Bruyne, Sterling, Navas ataupun gelandang bertenaga kuda Fernandinho. Tentu saja ini akan menjadi tontonan yang cukup menarik. Berbicara statistik di 3 pertandingan terakhir, lini tengah Manchester City tercatat lebih ganas dibandingkan gelandang tuan rumah. Dari 3 pertandingan terakhir baik di liga domestik maupun di UCL, para gelandang city lebih sangar dengan torehan 5 gol dari dua pemain andalan mereka Kevin de Bruyne dan Raheem Sterling yang unggul dari gelandang MU yang sepanjang 3 pertandingan terakhir hanya mampu mencetak 2 gol saja melalui schneiderlin dan Herreira. Keuntungan United adalah dengan dicadangkannya Juan Mata pada pertandingan UCL melawan Spartak Moscow Rabu kemarin. Sehingga dapat tampil bugar memimpin aliran bola untuk lini serang Manchester United. Mata yang sejauh musim ini menjadi pemain terbaik dari United sebagai top 3 most created change di EPL akan menjadi pembeda di pertandingan kali ini.

Joe Hart (sumber: fanpointsports.com)
Sementara di sisi pertahanan, Manchester city juga mengungguli Manchester United dengan hanya kebobolan 3 gol saja dari 3 pertandingan. sementara United sedikit lebih banyak yaitu 4 kali kebobolan.
Untuk ujung tombak, absennya Sergio Aguero jelas sangat merugikan Manchester city. Wilfried Bony yang kemungkinan ditunjuk menggantikan striker Argentina itu pun belum memperlihatkan penampilan terbaiknya.


Anthony Martial (sumber: skysports.com)
Sementara dari kubu tuan rumah, duet Rooney-Martial semakin menunjukkan kekompakannya. Walaupun belum maksimal, duo ujung tombak United itu berhasil menceploskan 2 gol di 2 pertandingan terakhir United di EPL dan UCL.

Prediksi:
Walaupun 5 pertandingan terakhir di Old Trafford City mengungguli United dengan tiga kali kemenangan berbanding dua. Untuk pertandingan kali ini, sepertinya hasil seri cukup adil untuk kedua tim.

Perkiraan starting line up Manchester United

Perkiraan starting line up Manchester City

DITULIS OLEH : ANDIK 

Tim Binatang versi JHUsports

Banyak hal unik dalam sepakbola, selain pertandingan yang menarik, juga terdapat pemain-pemain yang dijuluki oleh para fans dikarenakan tabiatnya dalam bermain si kulit bundar. Di sini kami merangkum beberapa pemain bola yang mendapat julukan dari nama-nama binatang pemberian fans. Dengan pola 3-4-3, tim binatang ini bisa menjadi kekuatan yang cukup menakutkan. Berikut susunan Tim Binatang versi JHUsports:

Lev Yashin (sumber: en.rsport.ru)
Kiper (Laba-Laba Hitam)
Di posisi kiper ada pemain legenda Uni Soviet. Siapa lagi kalau bukan Lev Yashin The Black Spider. Menjadi European Player Of the year pada 1963 serta membawa Uni soviet juara Olimpiade dan Eropa membuat posisi penjaga gawang sepertinya sulit digeser oleh siapapun. Gawang Tim Binatang akan sulit ditembus dengan berdirinya The Black Spider di mulut gawang.

Sergio Ramos (sumber: chinadaily.com.cn)

Belakang ( Serigala)
Pertahanan sebelah kanan di Tim Binatang ini dipercayakan kepada Sergio Ramos. Pemain yang menjadi salah satu punggawa Spanyol dalam mendapatkan gelar Juara Piala Dunia 2010 dan juga Euro 2012 ini juga dapat membantu serangan saat tim dalam keadaan tertinggal. Dengan kemampuannya yang hampir dibilang komplit untuk bek era sepakbola modern, membuatnya menjadi salah satu Bek terbaik di dunia saat ini.

Jack Charlton (sumber: mightyleeds.co.uk)

Belakang (Jerapah)
Pemain yang diberi gelar Jerapah ini adalah bagian dari tim juara Inggris pada 1966. Dia adalah Jack Charlton The Giraffe. Dengan tinggi badan 191 cm, si jerapah akan sangat membantu pertahanan tim dalam menghalau bola-bola atas. Saat masih aktif bermain, sepanjang karirnya di klub ia telah menceploskan 70 gol. Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran seorang pemain bertahan. Dan Leeds United adalah satu-satunya klub profesional yang pernah dibelanya.

Roberto Ayala (sumber: avangarda.in)

Belakang (Tikus Besar)
Kecepatan merupakan kekuatan utama pemain bertahan asal negara Argentina ini. Ya, Roberto Ayala atau the Rat adalah pemain belakang yang tidak mempunyai tinggi badan menjulang seperti kebanyakan center back tangguh lainnya. Tapi kelugasan dan tanpa kompromi dalam menghalau serangan lawan akan membuat pertahanan Tim binatang ini menjadi lebih aman.

Halaman: 1 2 3