![]() |
| Cristiano Lucarelli (sumber: ) |
Mungkin sebagian dari kita ada yang begitu kecewa mendengar fakta
bahwa klub kesayangan kita tak hanya sekedar bermain bola tapi juga membawa
unsur politik di dalamnya. Tapi ternyata fakta menunjukkan, ada beberapa klub
sepakbola yang dibangun melalui unsur politik dan tetap eksis. Tak terkecuali di
Italia. Ada banyak klub sepakbola Italia yang terbagi pada garis-garis politik.
Livorno adalah salah satu klub yang berada dengan tegas di sebelah kiri dengan
paham komunis. Jadi jangan heran ketika menonton pertandingan mereka di stadion
atau melalui layar kaca, anda akan melihat spanduk dengan gambar Che Guevara
atau palu arit berwarna merah mawar berkibaran di stadion. Livorno adalah
simbol perlawanan politik kiri Italia melalui sepakbola. Dan dapat diartikan
bahwa klub ini lambang dari pertentangan klub-klub berpolitik kanan, seperti
Lazio atau Verona, atau dengan klub-klub kaya nan mapan seperti Juventus, Inter
dan Milan.
Keterlibatan Livorno dengan komunisme diawali dengan terbentuknya
Partai Komunis Italia. Didirikan oleh Antonio Gramsci dan Amadeo Bordiga,
Partai Komunis Italia menjadi bentuk perlawanan terhadap fasisme Benito
Mussolini. Partai Komunis Italia sendiri merupakan partai yang tidak mendukung
maupun menentang perang. Bentuk perlawanan mereka terhadap pemerintah umumnya ditunjukkan
dalam aksi protes dan dalam bentuk olahraga, khususnya sepakbola, mengingat
bahwa penguasa saat itu juga mendirikan klub sepakbola yang menjadi ikon
pemerintah fasis, yaitu SS Lazio.
Cerita menarik lainnya tentang Livorno yang membuat para 'kaum
kiri' berloncat riang adalah ketika pada tahun 2005 Livorno berhasil
mengalahkan AC Milan yang disebut tegas oleh media kiri Inggris, Guardian, sebagai klub “anjing peliharaan”
penguasa Italia, Silvio Berlusconi. Kemenangan si kecil yang selalu terinjak melawan raksasa penguasa jelas membuat para
penggiat kiri sepakbola berbahagia. Ketika itu Livorno diperkuat oleh 'Che
Guevara' mereka di lapangan hijau, Cristiano Lucarelli yang selalu
dianaktirikan untuk membela timnas Italia karena mempunyai paham komunisme kental.
Cerita dimulai ketika Cristiano Lucarelli muda tampil untuk tim Italia
U-21 menghadapi Moldova pada sebuah laga internasional. Lucarelli yang sering
disebut-sebut sebagai striker masa depan negeri pizza tersebut berhasil
mencetak gol pada pertandingan itu. Setelah mencetak gol, Lucarelli melakukan
selebrasi berlari sambil membuka jerseynya ke arah fans Italia, dan terpampang
jelas wajah Che Guevara di kaos dalamnya. Sejak kejadian itu, setiap pelatih
yang menukangi Gli Azzuri seperti mendapat larangan tidak tertulis dari FIGC
(Badan tertinggi sepakbola Italia) untuk memanggil Lucarelli ke Timnas.
Livorno dan Lucarelli itu bagai suatu kesatuan yang tak dapat
dipisahkan. Pendapat ini diamini oleh pelatih kenamaan Italia Serse Cosmi yang
mengatakan bahwa Lucarelli adalah Livorno.
Pemain yang kerap melakukan selebrasi The Raised Fist ketika mencetak
gol itu memilih menggunakan nomor punggung 99 untuk mengormati ultras garis
keras Brigate Autonomn Livornesi yang berdir pada tahun 1999. Komunisme yang
dipercaya oleh Lucarelli dan masyarakat Livorno lainnya selama bertahun-tahun adalah sebuah paham
yang sejatinya berpihak kepada masyarakat kecil nan miskin yang sering
digambarkan Lucarelli sebagai 'Livorno' dan bukan berpihak kepada penguasa dan
kapitalisme.
Pendapat lain yang makin menegaskan bahwa “Lucarelli adalah
Livorno” terjadi di tahun 2003,. Saat itu, Lucarelli memutuskan untuk membela
Livorno yang berada di serie B, padahal ia masih memiliki sisa kontrak selama 1
tahun di Torino. Dan apa yang dilakukan Lucarelli? Ia membeli kontraknya
sendiri senilai 1 juta lira untuk segera berangkat ke Livorno.
“Some players buy
themselves a Ferarri or a yacht for a billion lira. I bought myself a Livorno
shirt. That’s all.“- Cristiano Lucarelli.
Livorno dan Lucarelli adalah sebuah fenomena dan perbedaan yang
membuat sepakbola semakin berwarna. Sayang, saat ini Livorno masih berjuang di
serie B atau kasta kedua tertinggi di sepakbola Italia. Kita doakan saja semoga
di musim depan klub ini dapat kembali promosi ke serie A dan kembali
menyemarakkan indahnya perbedaan pada dunia sepakbola.
DITULIS OLEH: ANDIK

0 comments:
Posting Komentar