![]() |
| Pemain Leicester City ketika merayakan gol melawan Stoke City (sumber: ) |
Mungkin
hampir semua penggila sepakbola liga Inggris tak ada yang menyangka, hingga gameweek ke-11 EPL musim 2015-2016,
Leicester City masih nangkring di
peringkat 3 klasemen dengan hanya terpaut tiga angka dari sang pemuncak
klasemen, Manchester City . Klub yang berdiri pada tahun 1884 ini menunjukkan
konsistensi mereka melalui kolektivitas permainan dan tentu saja semangat tim
yang tak bisa dipandang sebelah mata pada musim ini. Tak hanya dalam posisi
klasemen, untuk masalah mencetak gol, tim berjuluk The Fox ini masih menjadi
klub yang paling menakutkan setelah Manchester City. 23 gol berhasil mereka
sarangkan ke jala lawan dan hanya terpaut tiga gol dari torehan tim biru
Manchester dalam urusan membobol gawang lawan. Bahkan jika diukur dalam segi
efektivitas, si rubah biru masih lebih oke ketimbang Manchester City.
Statistik mencatat hingga pekan ke 11, rata-rata 7.1 tembakan Leicester City
berhasil menjadi gol, sementara Manchester biru membutuhkan 7.9 tembakan untuk
menjadi gol.
Jika
menoleh sedikit ke belakang, sejarah mencatat prestasi terbaik dari The Fox
adalah dengan tiga kali menjuarai piala Carling. Sedangkan untuk kompetisi
dengan kasta tertinggi di negeri Union Jack itu, yaitu Liga Inggris, mulai dari
format lama (First tier) hingga kini berformat Premier League, hampir tak ada
prestasi yang bisa dibanggakan kecuali menjadi Runner-up pada musim 1928-1929.
Untuk itu, mungkin menarik jika kita mengulas beberapa faktor dan fakta menarik
dari Leicester City musim ini hingga pekan ke-11 EPL.
![]() |
| Marc Albrighton (sumber: ) |
1.
Tidak ada pemain bintang
Jika
melihat klasemen liga Inggris hingga pekan ke-11 ini, peringkat 4 besar masih
dihuni oleh tim-tim kuat. Manchester City bertengger di peringkat paling atas,
diikuti Arsenal dan di peringkat ke-4 ada Manchester United. Tiga tim dengan
nama besar tersebut tentu saja memiliki pemain dengan nama-nama beken, yang
notabene memiliki bandrol selangit yang memang sudah tak diragukan lagi
kemampuannya. Namun Leicester City yang tak disangka kehadirannya di posisi empat
besar klasemen hadir dengan nama-nama pemain yang sebagian besar masih asing di
telinga pencinta sepakbola. Nama-nama seperti Wes Morgan, Marc Albrighton
ataupun Danny Drinkwater jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan nama
besar seperti Vincent Kompany, Mesut Ozil maupun Wayne Rooney.
![]() |
| Leicester City ketika melawan Southamton (sumber: ) |
2. Tim
babak kedua
Lebih
dari separuh laga yang dilakoni Leicester City di EPL berbuah manis di babak
kedua. Baik itu berupa comeback untuk
menyamakan kedudukan maupun untuk meraih 3 angka kemenangan. Entah apa yang dilakukan
Ranieri di ruang ganti saat babak pertama usai. Tapi yang jelas, dari sebelas
pertandingan yang mereka lakoni, enam di antaranya menghasilkan nilai positif
di babak kedua. Stoke, Bournemouth,
Aston Villa, Crystal Palace, Southampton dan terakhir West Bromwich
Albion adalah tim-tim yang merasakan keganasan The Fox di babak kedua.
![]() |
| Vardy dan Mahrez (sumber: ) |
3. Duo
Vardy-Mahrez
Vardy-Mahrez
adalah fenomena di liga Inggris 2015-2016, setidaknya hingga pekan ke-11 duo
mematikan ini telah mengoleksi 18 gol. Vardy, sang pemuncak top skor sementara
EPL, telah mengoleksi 11 gol dari 11 pertandingannya, sementara Riyadh Mahrez
dari 9 pertandngannya di EPL berhasil menceploskan bola ke jala lawan sebanyak
7 kali. Terdapat juga fakta menarik dari Jamie Vardy, di mana musim ini merupakan
musim ke-3 nya membela klub profesional. Di sisi lain, vitalnya peran Riyadh
Mahrez pada musim ini seperti mengajak kita bernostalgia tentang peran seorang
Muzzi Izzet ketika masih bermain untuk Leicester City.
4.
Paling sedikit kalah
Menjadi
tim yang paling sedikit mengalami kekalahan membuat Leicester City (bersama Spurs) menjadi
suatu fenomena, di mana sejauh ini hanya Arsenal yang mampu mengalahkan mereka
di musim ini. Tim-tim lain yang bertemu dengan Leicester di EPL seperti selalu
mengalami kesialan. Karena memang tidak sedikit tim yang sudah unggul di babak
pertama melawan mereka, akhirnya harus gigit jari menerima hasil seri ataupun
menderita kekalahan di akhir laga. Itulah kenapa Leicester menjadi tim yang
begitu menjengkelkan bagi lawan-lawannya.
5.
Claudio Ranieri
Pelatih
kelahiran Roma 64 tahun silam ini tentunya sudah banyak makan asam garam di
dunia kulit bundar. Setelah sebelumnya malang melintang di klub besar seperti
Valencia dan Chelsea. Kesuksesan Leicester City di awal liga musim ini tentu
saja tak lepas dari strategi yang keluar dari kepalanya. Bermain kuat dari
sayap, serangan balik yang cepat serta memanfaatkan peluang dengan efektif
adalah kekuatan Leicester City. Hanya saja strategi permainan terbukanya itu
terkadang malah menjadi bumerang dengan juga banyaknya kebobolan yang dialami
timnya.
Sepanjang
pagelaran EPL 2015-2016 ini Leicester City masih menjadi yang paling sulit
untuk dikalahkan. Tentunya fenomena ini bukan sekali dua kali terjadi. Karena
jika melihat ke beberapa musim sebelumnya, tim-tim seperti Swansea ataupun
Southampton juga pernah mengalami saat-saat membahagiakan seperti yang dialami
Leicester City musim ini. Namun, konsistensi adalah kunci untuk meraih sukses
di akhir tahun, karena pada akhirnya itulah yang merubuhkan tim-tim kejutan
yang sempat singgah di papan atas English Premier League di musim-musim yang
lalu.
DITULIS OLEH: ANDIK








