Pages - Menu

Jumat, 06 November 2015

Lompatan Tinggi Si Rubah Biru

Pemain Leicester City ketika merayakan gol melawan Stoke City
(sumber: eurosport.co.uk)
Mungkin hampir semua penggila sepakbola liga Inggris tak ada yang menyangka, hingga gameweek ke-11 EPL musim 2015-2016, Leicester City masih nangkring di peringkat 3 klasemen dengan hanya terpaut tiga angka dari sang pemuncak klasemen, Manchester City . Klub yang berdiri pada tahun 1884 ini menunjukkan konsistensi mereka melalui kolektivitas permainan dan tentu saja semangat tim yang tak bisa dipandang sebelah mata pada musim ini. Tak hanya dalam posisi klasemen, untuk masalah mencetak gol, tim berjuluk The Fox ini masih menjadi klub yang paling menakutkan setelah Manchester City. 23 gol berhasil mereka sarangkan ke jala lawan dan hanya terpaut tiga gol dari torehan tim biru Manchester dalam urusan membobol gawang lawan. Bahkan jika diukur dalam segi efektivitas, si rubah biru masih lebih oke ketimbang Manchester City. Statistik mencatat hingga pekan ke 11, rata-rata 7.1 tembakan Leicester City berhasil menjadi gol, sementara Manchester biru membutuhkan 7.9 tembakan untuk menjadi gol.

Jika menoleh sedikit ke belakang, sejarah mencatat prestasi terbaik dari The Fox adalah dengan tiga kali menjuarai piala Carling. Sedangkan untuk kompetisi dengan kasta tertinggi di negeri Union Jack itu, yaitu Liga Inggris, mulai dari format lama (First tier) hingga kini berformat Premier League, hampir tak ada prestasi yang bisa dibanggakan kecuali menjadi Runner-up pada musim 1928-1929. Untuk itu, mungkin menarik jika kita mengulas beberapa faktor dan fakta menarik dari Leicester City musim ini hingga pekan ke-11 EPL.

Marc Albrighton (sumber: skysports.com)
1. Tidak ada pemain bintang
Jika melihat klasemen liga Inggris hingga pekan ke-11 ini, peringkat 4 besar masih dihuni oleh tim-tim kuat. Manchester City bertengger di peringkat paling atas, diikuti Arsenal dan di peringkat ke-4 ada Manchester United. Tiga tim dengan nama besar tersebut tentu saja memiliki pemain dengan nama-nama beken, yang notabene memiliki bandrol selangit yang memang sudah tak diragukan lagi kemampuannya. Namun Leicester City yang tak disangka kehadirannya di posisi empat besar klasemen hadir dengan nama-nama pemain yang sebagian besar masih asing di telinga pencinta sepakbola. Nama-nama seperti Wes Morgan, Marc Albrighton ataupun Danny Drinkwater jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan nama besar seperti Vincent Kompany, Mesut Ozil maupun Wayne Rooney.

Leicester City ketika melawan Southamton (sumber: rantsports.com)
2. Tim babak kedua
Lebih dari separuh laga yang dilakoni Leicester City di EPL berbuah manis di babak kedua. Baik itu berupa comeback untuk menyamakan kedudukan maupun untuk meraih 3 angka kemenangan. Entah apa yang dilakukan Ranieri di ruang ganti saat babak pertama usai. Tapi yang jelas, dari sebelas pertandingan yang mereka lakoni, enam di antaranya menghasilkan nilai positif di babak kedua. Stoke, Bournemouth,  Aston Villa, Crystal Palace, Southampton dan terakhir West Bromwich Albion adalah tim-tim yang merasakan keganasan The Fox di babak kedua.

Vardy dan Mahrez (sumber: lcfc.com)
3. Duo Vardy-Mahrez
Vardy-Mahrez adalah fenomena di liga Inggris 2015-2016, setidaknya hingga pekan ke-11 duo mematikan ini telah mengoleksi 18 gol. Vardy, sang pemuncak top skor sementara EPL, telah mengoleksi 11 gol dari 11 pertandingannya, sementara Riyadh Mahrez dari 9 pertandngannya di EPL berhasil menceploskan bola ke jala lawan sebanyak 7 kali. Terdapat juga fakta menarik dari Jamie Vardy, di mana musim ini merupakan musim ke-3 nya membela klub profesional. Di sisi lain, vitalnya peran Riyadh Mahrez pada musim ini seperti mengajak kita bernostalgia tentang peran seorang Muzzi Izzet ketika masih bermain untuk Leicester City.
 
Kasper Schmeichel (sumber: espnfc.com)
4. Paling sedikit kalah
Menjadi tim yang paling sedikit mengalami kekalahan membuat Leicester City (bersama Spurs) menjadi suatu fenomena, di mana sejauh ini hanya Arsenal yang mampu mengalahkan mereka di musim ini. Tim-tim lain yang bertemu dengan Leicester di EPL seperti selalu mengalami kesialan. Karena memang tidak sedikit tim yang sudah unggul di babak pertama melawan mereka, akhirnya harus gigit jari menerima hasil seri ataupun menderita kekalahan di akhir laga. Itulah kenapa Leicester menjadi tim yang begitu menjengkelkan bagi lawan-lawannya.
 
Caludio Ranieri (sumber: eurosport.co.uk)
5. Claudio Ranieri
Pelatih kelahiran Roma 64 tahun silam ini tentunya sudah banyak makan asam garam di dunia kulit bundar. Setelah sebelumnya malang melintang di klub besar seperti Valencia dan Chelsea. Kesuksesan Leicester City di awal liga musim ini tentu saja tak lepas dari strategi yang keluar dari kepalanya. Bermain kuat dari sayap, serangan balik yang cepat serta memanfaatkan peluang dengan efektif adalah kekuatan Leicester City. Hanya saja strategi permainan terbukanya itu terkadang malah menjadi bumerang dengan juga banyaknya kebobolan yang dialami timnya.

Sepanjang pagelaran EPL 2015-2016 ini Leicester City masih menjadi yang paling sulit untuk dikalahkan. Tentunya fenomena ini bukan sekali dua kali terjadi. Karena jika melihat ke beberapa musim sebelumnya, tim-tim seperti Swansea ataupun Southampton juga pernah mengalami saat-saat membahagiakan seperti yang dialami Leicester City musim ini. Namun, konsistensi adalah kunci untuk meraih sukses di akhir tahun, karena pada akhirnya itulah yang merubuhkan tim-tim kejutan yang sempat singgah di papan atas English Premier League di musim-musim yang lalu.

DITULIS OLEH: ANDIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar