Jumat, 06 November 2015

Lompatan Tinggi Si Rubah Biru

Pemain Leicester City ketika merayakan gol melawan Stoke City
(sumber: eurosport.co.uk)
Mungkin hampir semua penggila sepakbola liga Inggris tak ada yang menyangka, hingga gameweek ke-11 EPL musim 2015-2016, Leicester City masih nangkring di peringkat 3 klasemen dengan hanya terpaut tiga angka dari sang pemuncak klasemen, Manchester City . Klub yang berdiri pada tahun 1884 ini menunjukkan konsistensi mereka melalui kolektivitas permainan dan tentu saja semangat tim yang tak bisa dipandang sebelah mata pada musim ini. Tak hanya dalam posisi klasemen, untuk masalah mencetak gol, tim berjuluk The Fox ini masih menjadi klub yang paling menakutkan setelah Manchester City. 23 gol berhasil mereka sarangkan ke jala lawan dan hanya terpaut tiga gol dari torehan tim biru Manchester dalam urusan membobol gawang lawan. Bahkan jika diukur dalam segi efektivitas, si rubah biru masih lebih oke ketimbang Manchester City. Statistik mencatat hingga pekan ke 11, rata-rata 7.1 tembakan Leicester City berhasil menjadi gol, sementara Manchester biru membutuhkan 7.9 tembakan untuk menjadi gol.

Jika menoleh sedikit ke belakang, sejarah mencatat prestasi terbaik dari The Fox adalah dengan tiga kali menjuarai piala Carling. Sedangkan untuk kompetisi dengan kasta tertinggi di negeri Union Jack itu, yaitu Liga Inggris, mulai dari format lama (First tier) hingga kini berformat Premier League, hampir tak ada prestasi yang bisa dibanggakan kecuali menjadi Runner-up pada musim 1928-1929. Untuk itu, mungkin menarik jika kita mengulas beberapa faktor dan fakta menarik dari Leicester City musim ini hingga pekan ke-11 EPL.

Marc Albrighton (sumber: skysports.com)
1. Tidak ada pemain bintang
Jika melihat klasemen liga Inggris hingga pekan ke-11 ini, peringkat 4 besar masih dihuni oleh tim-tim kuat. Manchester City bertengger di peringkat paling atas, diikuti Arsenal dan di peringkat ke-4 ada Manchester United. Tiga tim dengan nama besar tersebut tentu saja memiliki pemain dengan nama-nama beken, yang notabene memiliki bandrol selangit yang memang sudah tak diragukan lagi kemampuannya. Namun Leicester City yang tak disangka kehadirannya di posisi empat besar klasemen hadir dengan nama-nama pemain yang sebagian besar masih asing di telinga pencinta sepakbola. Nama-nama seperti Wes Morgan, Marc Albrighton ataupun Danny Drinkwater jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan nama besar seperti Vincent Kompany, Mesut Ozil maupun Wayne Rooney.

Leicester City ketika melawan Southamton (sumber: rantsports.com)
2. Tim babak kedua
Lebih dari separuh laga yang dilakoni Leicester City di EPL berbuah manis di babak kedua. Baik itu berupa comeback untuk menyamakan kedudukan maupun untuk meraih 3 angka kemenangan. Entah apa yang dilakukan Ranieri di ruang ganti saat babak pertama usai. Tapi yang jelas, dari sebelas pertandingan yang mereka lakoni, enam di antaranya menghasilkan nilai positif di babak kedua. Stoke, Bournemouth,  Aston Villa, Crystal Palace, Southampton dan terakhir West Bromwich Albion adalah tim-tim yang merasakan keganasan The Fox di babak kedua.

Vardy dan Mahrez (sumber: lcfc.com)
3. Duo Vardy-Mahrez
Vardy-Mahrez adalah fenomena di liga Inggris 2015-2016, setidaknya hingga pekan ke-11 duo mematikan ini telah mengoleksi 18 gol. Vardy, sang pemuncak top skor sementara EPL, telah mengoleksi 11 gol dari 11 pertandingannya, sementara Riyadh Mahrez dari 9 pertandngannya di EPL berhasil menceploskan bola ke jala lawan sebanyak 7 kali. Terdapat juga fakta menarik dari Jamie Vardy, di mana musim ini merupakan musim ke-3 nya membela klub profesional. Di sisi lain, vitalnya peran Riyadh Mahrez pada musim ini seperti mengajak kita bernostalgia tentang peran seorang Muzzi Izzet ketika masih bermain untuk Leicester City.
 
Kasper Schmeichel (sumber: espnfc.com)
4. Paling sedikit kalah
Menjadi tim yang paling sedikit mengalami kekalahan membuat Leicester City (bersama Spurs) menjadi suatu fenomena, di mana sejauh ini hanya Arsenal yang mampu mengalahkan mereka di musim ini. Tim-tim lain yang bertemu dengan Leicester di EPL seperti selalu mengalami kesialan. Karena memang tidak sedikit tim yang sudah unggul di babak pertama melawan mereka, akhirnya harus gigit jari menerima hasil seri ataupun menderita kekalahan di akhir laga. Itulah kenapa Leicester menjadi tim yang begitu menjengkelkan bagi lawan-lawannya.
 
Caludio Ranieri (sumber: eurosport.co.uk)
5. Claudio Ranieri
Pelatih kelahiran Roma 64 tahun silam ini tentunya sudah banyak makan asam garam di dunia kulit bundar. Setelah sebelumnya malang melintang di klub besar seperti Valencia dan Chelsea. Kesuksesan Leicester City di awal liga musim ini tentu saja tak lepas dari strategi yang keluar dari kepalanya. Bermain kuat dari sayap, serangan balik yang cepat serta memanfaatkan peluang dengan efektif adalah kekuatan Leicester City. Hanya saja strategi permainan terbukanya itu terkadang malah menjadi bumerang dengan juga banyaknya kebobolan yang dialami timnya.

Sepanjang pagelaran EPL 2015-2016 ini Leicester City masih menjadi yang paling sulit untuk dikalahkan. Tentunya fenomena ini bukan sekali dua kali terjadi. Karena jika melihat ke beberapa musim sebelumnya, tim-tim seperti Swansea ataupun Southampton juga pernah mengalami saat-saat membahagiakan seperti yang dialami Leicester City musim ini. Namun, konsistensi adalah kunci untuk meraih sukses di akhir tahun, karena pada akhirnya itulah yang merubuhkan tim-tim kejutan yang sempat singgah di papan atas English Premier League di musim-musim yang lalu.

DITULIS OLEH: ANDIK

KIPRAH PENJAGA GAWANG MASA DEPAN AC MILAN

Gianliugi Donnarumma ketika melawan Sassuolo 25 Oktober 2015 (sumber: mirror.co.uk)
Pada pertandingan antara AC Milan vs Sassuolo 25 Oktober 2015 lalu, secara mengejutkan pelatih AC Milan memasang kiper belia mereka, Gianluigi Donnarumma yang akrab dipanggil Gianluigi, sebagai kiper utama starting XI AC Milan. Yang menarik, debut Gianluigi ini terjadi saat dia berusia 16 tahun 242 hari! Yang artinya, dia adalah pemain belia kedua setelah legenda hidup AC Milan, Paolo Maldini, yang melakukan debut pada usia 16 tahun 208 hari. Berdasar data yang dilansir dari wikipedia, rekor debut kiper termuda di Serie A masih dipegang oleh Gianluca Pacchiarotti yang melakukan debut pada usia 16 tahun 192 hari ketika bermain untuk Pescara pada musim 1977-1978, ketika dikalahkan Perugia. Namun, meski begitu, tentu saja debut Gianluigi di klub sebesar AC Milan ini tetap merupakan suatu hal yang fenomenal.

Dalam pertandingan debutnya melawan Sassuolo, Gianluigi membuat satu  penyelamatan dari dua shoot on goal Sassuolo sepanjang pertandingan  namun kebobolan satu gol dari tendangan bebas penyerang masa depan Italia, Domenico Berardi. Beberapa hari kemudian, Gianluigi kembali dipercaya berdiri di bawah mistar AC Milan, dimana kali ini Gianluigi menorehkan clean sheet yang membuat Milan menang 1-0 atas Chievo. Dalam pertandingan melawan Chievo, Gianluigi sempat melakukan 2 penyelamatan gemilang. Menurut Squawka, selama dua kali penampilannya Gianluigi melakukan 5 claims, 3 saves, total distribution 84%, dan total performance score 78.

Siapa sebenarnya Gianluigi Donnarumma? Kiper muda Milan ini lahir di Castellammare di Stabia pada tanggal 25 Februari 1999, tepat pada saat Milan menjadi scudetto di bawah kepelatihan Alberto Zaccheroni. Dengan tinggi badan 196 Cm dan berat badan 90 Kg, tubuh Gianluigi sangat proporsional untuk menjadi benteng terakhir tim berjuluk Rossonerri di masa depan. Gianluigi sendiri dipromosikan ke tim utama dan menjadi kiper ketiga pada musim 2015/2016 ini oleh pelatih Milan, Sinisa Mihajlovic. Miha sangat percaya dengan kemampuan Gianluigi setelah mendengar rekomendasi para scout Milan yang telah mengamati performa kiper Timnas Italia U-17 itu sejak dini. Menurut penjelasan ayahnya, Alfonso Donnarumma, Gianluigi pernah mencoba mengikuti trial di Juventus dan Inter Milan, sebelum akhirnya bergabung ke akademi Milan. Ia pun akhirnya promosi ke tim utama bersama salah satu rekan setimnya di Milan Primavera, Davide Calabria, pada musim ini, menyusul Mattia De Sciglio dan Ignazio Abate yang  terlebih dahulu bermain di tim utama. Gianluigi sendiri melakukan debut profesionalnya pada saat uji coba pra-musim melawan Real Madrid, di mana dia mampu menggagalkan tendangan penalti Toni Kroos.  Kemampuan Gianluigi menahan tendangan penalti sendiri bukan suatu hal yang kebetulan, karena semasa masih bermain di Milan Primavera pun Gianluigi pernah beberapa kali melakukan penyelamatan tendangan penalti.

Apa yang dicapai Gianluigi kini telah mengalahkan pencapaian kakaknya, Antonio Donnarumma, yang juga bergabung ke AC Milan pada usia 15 tahun. Sayang, karir Antonio di Milan tidak secemerlang adiknya. Antonia harus rela dipinjamkan ke Piacenza sebelum akhirnya hijrah ke Genoa.
Pengamatan scout Milan memang tidak salah, di awal musim 2015/2016 ini Gianluigi sempat diincar dua klub raksasa EPL, Manchester United dan Chelsea (sumber: harian Calcio Mercato dan La Gazzetta dello Sport).  Artinya, Milan harus bisa mengamankan kontrak kiper belianya tersebut agar bisa bertahan di Milan selama mungkin.


Di saat lini belakang Milan tampil begitu keropos serta menurunnya performa Diego Lopes, Gianluigi bisa menjadi harapan AC Milan dan Milanisti sebagai benteng terakhir yang tangguh. Tentu ini akan menjadi tantangan yang sangat berat bagi kiper muda ini. Hal  yang menarik untuk diamati adalah, apakah penampilan Gianluigi pada pertandingan pertandingan selanjutnya dapat menjawab tantangan tersebut.

DITULIS OLEH: DONEH

Rabu, 04 November 2015

SANG LEGENDA KIPER TIMNAS TERKULAI LEMAH

Kurnia Sandy terbaring sakit (sumber: bola.tempo.co)
Penggemar sepakbola nasional mana yang tak mengenal Kurnia Sandy? Ya, ia adalah kiper utama tim nasional di periode ’90-an. Kini Kurnia Sandy sedang terbaring sakit di RSUD Sidoarjo. Dilansir dari laman berita situs Kemenpora dan portal berita online detik.com, Kurnia Sandy dijenguk Menpora yang didampingi oleh Sekretaris Dispora Jatim, Sugeng. Kedatangan Menpora untuk melihat langsung keadaan terakhir mantan kiper timnas tersebut  serta memberi semangat kepada Kurnia Sandy  agar bisa terjun lagi di kancah sepakbola Indonesia. Menurut penuturan Ary Listiyowati, istri Kurnia Sandy, gejala awal  sakitnya tidak terlihat, hanya ketika diajak berkomunikasi sangat lambat untuk merespon, yang kemudian diikuti tanda-tanda penurunan ingatan. Kemudian setelah suaminya tak mampu merespon saat ditanya siapakah dirinya, Ary pun segera menghubungi rekan setim suaminya di timnas, Kurniawan Dwi Yulianto. Kurniawan bahkan sempat mengajak sahabatnya, “Bejo” Sugiantoro, untuk bersama berjalan-jalan agar kondisinya membaik dan mengembalikan ingatannya. Namun karena kondisinya tak kunjung membaik, maka Kurnia Sandy pun dibawa ke RSUD Sidoarjo.

Kurnia Sandy adalah salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Lahir di kota Semarang pada 24 Agustus 1975, Sandy memulai karir profesionalnya di Pelita Jaya pada tahun 1994-1995.  Ia lalu  mengikuti timnas Primavera (timnas U-19) yang merupakan program kerjasama antara PSSI dan salah satu klub elite Serie A ketika itu, Sampdoria. Bersama timnas Primavera, Kurnia Sandy ikut berlaga pada di pra-Olimpiade 1996 meski harus tersingkir oleh tuan rumah Korea Selatan dengan angka tipis, 2-1.

Skuat Sampdoria 1996/97 (sumber: sidomi.com)
Setelah mengikuti program timnas Primavera di Italia, pada tahun 1996-1997 Kurnia Sandy direkrut oleh Sampdoria setelah sebelumnya klub Serie A tersebut gagal memboyong striker muda, Kurniawan Dwi Yulianto. Di Sampdoria, Kurnia Sandy sempat bermain dengan pemain-pemain sekaliber Roberto Mancini, Christian Karembeu, Vicenzo Montella, Sinisa Mihajlovic, Juan Sebastian Veron, dan lainnya. Selama satu tahun di Sampdoria, Sandy tidak sekalipun merasakan pertandingan Serie A. Meski begitu, Sandy adalah salah satu pemain muda bergaji besar di Serie A.

Dari Sampdoria, Sandy kembali ke tanah air untuk membela Pelita Jaya pada tahun 1997 hingga tahun 2000.  Di tahun 2001, Sandy hijrah dari Pelita untuk memperkuat Persikabo Bogor. Setahun kemudian, Sandy Membela PSM Makasar sebelum akhirnya hijrah lagi ke Arema Malang. Tiga tahun bermain di tim Singo Edan, Sandy membawa Arema juara Divisi I Ligina 2004 sekaligus membawa tim Singo Edan itu kembali ke Divisi Utama Ligina. Pada tahun 2005 dan 2006, Sandy kembali membawa Arema juara Copa Djie Sam Soe dua kali berturut-turut. Setelah tiga tahun bersama Arema, Sandy lalu hijrah ke tim juara Ligina, Persik Kediri, pada tahun 2007 dan ikut berlaga membela Persik di AFC Champion League. Pada tahun 2008 Sandy pun memperkuat Persebaya Surabaya sebelum kemudian memperkuat Mitra Kukar dan terakhir Bandung FC, masing-masing pada tahun 2011 dan 2012.

Setelah pensiun menjadi pemain, Kurnia Sandy menjajal kemampuannya sebagai pelatih kiper timnas U-16 dan U-19 yang akan berlaga di kualifikasi Piala Asia U-16 dan U-19, akan tetapi gagal akibat pembekuan PSSI oleh Menpora dan sanksi dari FIFA. Kepada portal berita SportSatu, Ary berucap bahwa Kurnia Sandy masih menganggur, belum ada kegiatan di sepakbola dan hanya membantu usaha istrinya . Kalaupun ada, hanya bersifat undangan seperti coaching clinic. Dengan kondisi sepakbola nasional saat ini, nasib mantan pemain yang berjasa banyak bagi timnas seperti Kurnia Sandy sungguh menyedihkan. Mendapatkan klub baru untuk tempat bernaung cukup sulit akibat kisruh antara Menpora dan PSSI yang menyebabkan hampir segala kompetisi sepakbola nasional terhenti. Oleh karena itu, keluarga Kurnia Sandy pun berharap agar kisruh sepakbola nasional segera menemui titik terang dan berakhir. Yang tentunya juga merupakan harapan dari seluruh pencinta sepakbola nasional.


Semoga cepat sembuh, Kurnia Sandy!

DITULIS OLEH: DONEH

Rabu, 28 Oktober 2015

Livorno, Lucarelli dan Komunis

Cristiano Lucarelli (sumber: beyondthefieldofplay.com)
Mungkin sebagian dari kita ada yang begitu kecewa mendengar fakta bahwa klub kesayangan kita tak hanya sekedar bermain bola tapi juga membawa unsur politik di dalamnya. Tapi ternyata fakta menunjukkan, ada beberapa klub sepakbola yang dibangun melalui unsur politik dan tetap eksis. Tak terkecuali di Italia. Ada banyak klub sepakbola Italia yang terbagi pada garis-garis politik. Livorno adalah salah satu klub yang berada dengan tegas di sebelah kiri dengan paham komunis. Jadi jangan heran ketika menonton pertandingan mereka di stadion atau melalui layar kaca, anda akan melihat spanduk dengan gambar Che Guevara atau palu arit berwarna merah mawar berkibaran di stadion. Livorno adalah simbol perlawanan politik kiri Italia melalui sepakbola. Dan dapat diartikan bahwa klub ini lambang dari pertentangan klub-klub berpolitik kanan, seperti Lazio atau Verona, atau dengan klub-klub kaya nan mapan seperti Juventus, Inter dan Milan.

Keterlibatan Livorno dengan komunisme diawali dengan terbentuknya Partai Komunis Italia. Didirikan oleh Antonio Gramsci dan Amadeo Bordiga, Partai Komunis Italia menjadi bentuk perlawanan terhadap fasisme Benito Mussolini. Partai Komunis Italia sendiri merupakan partai yang tidak mendukung maupun menentang perang. Bentuk perlawanan mereka terhadap pemerintah umumnya ditunjukkan dalam aksi protes dan dalam bentuk olahraga, khususnya sepakbola, mengingat bahwa penguasa saat itu juga mendirikan klub sepakbola yang menjadi ikon pemerintah fasis, yaitu SS Lazio.

Cerita menarik lainnya tentang Livorno yang membuat para 'kaum kiri' berloncat riang adalah ketika pada tahun 2005 Livorno berhasil mengalahkan AC Milan yang disebut tegas oleh media kiri Inggris, Guardian, sebagai klub “anjing peliharaan” penguasa Italia, Silvio Berlusconi. Kemenangan si kecil yang selalu terinjak  melawan raksasa penguasa jelas membuat para penggiat kiri sepakbola berbahagia. Ketika itu Livorno diperkuat oleh 'Che Guevara' mereka di lapangan hijau, Cristiano Lucarelli yang selalu dianaktirikan untuk membela timnas Italia karena mempunyai paham komunisme  kental.

Cerita dimulai ketika Cristiano Lucarelli muda tampil untuk tim Italia U-21 menghadapi Moldova pada sebuah laga internasional. Lucarelli yang sering disebut-sebut sebagai striker masa depan negeri pizza tersebut berhasil mencetak gol pada pertandingan itu. Setelah mencetak gol, Lucarelli melakukan selebrasi berlari sambil membuka jerseynya ke arah fans Italia, dan terpampang jelas wajah Che Guevara di kaos dalamnya. Sejak kejadian itu, setiap pelatih yang menukangi Gli Azzuri seperti mendapat larangan tidak tertulis dari FIGC (Badan tertinggi sepakbola Italia) untuk memanggil Lucarelli ke Timnas.

Livorno dan Lucarelli itu bagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Pendapat ini diamini oleh pelatih kenamaan Italia Serse Cosmi yang mengatakan bahwa Lucarelli adalah Livorno.  Pemain yang kerap melakukan selebrasi The Raised Fist ketika mencetak gol itu memilih menggunakan nomor punggung 99 untuk mengormati ultras garis keras Brigate Autonomn Livornesi yang berdir pada tahun 1999. Komunisme yang dipercaya oleh Lucarelli dan masyarakat Livorno lainnya  selama bertahun-tahun adalah sebuah paham yang sejatinya berpihak kepada masyarakat kecil nan miskin yang sering digambarkan Lucarelli sebagai 'Livorno' dan bukan berpihak kepada penguasa dan kapitalisme.

Pendapat lain yang makin menegaskan bahwa “Lucarelli adalah Livorno” terjadi di tahun 2003,. Saat itu, Lucarelli memutuskan untuk membela Livorno yang berada di serie B, padahal ia masih memiliki sisa kontrak selama 1 tahun di Torino. Dan apa yang dilakukan Lucarelli? Ia membeli kontraknya sendiri senilai 1 juta lira untuk segera berangkat ke Livorno. 
“Some players buy themselves a Ferarri or a yacht for a billion lira. I bought myself a Livorno shirt. That’s all.“- Cristiano Lucarelli.

Livorno dan Lucarelli adalah sebuah fenomena dan perbedaan yang membuat sepakbola semakin berwarna. Sayang, saat ini Livorno masih berjuang di serie B atau kasta kedua tertinggi di sepakbola Italia. Kita doakan saja semoga di musim depan klub ini dapat kembali promosi ke serie A dan kembali menyemarakkan indahnya perbedaan pada dunia sepakbola.

DITULIS OLEH: ANDIK

Selasa, 27 Oktober 2015

Top Ten Amunisi Baru Pilihan Tim NBA Musim 2015/2016

Musim baru NBA akan bergulir kurang dari 24 jam lagi. Terlintas di pikiran saya untuk membahas beberapa amunisi baru yang mungkin akan berguna (atau sebaliknya, tidak) bagi tim-tim NBA musim 2015/16 kali ini. Para pemain baru atau yang lebih sering disebut rookies ini tiap tahunnya melalui proses seleksi oleh tim-tim NBA yang disebut dengan NBA draft pick. Ada 60 nama yang di-draft pada musim 2015/16 kali ini. Sebagian besar dari mereka adalah pemain College Basketball di Amerika namun beberapa nama juga berasal dari luar negeri. Berikut 10 rookie terbaik versi kami.

1.       Karl-Anthony Towns
Pemain yang mendapatkan overall pick ke-1 ini dipilih oleh Minnesota Timberwolves untuk memulai karir profesionalnya di liga basket tertinggi di Amerika. Dengan postur 7-0 ft/ 250 lb, Karl memiliki postur yang cukup baik untuk bermain di posisi center. Karl adalah seorang rebounder yang cukup handal, dibuktikan dengan fakta bahwa ia mencatat 6,7 RPG (Rebound Per Game) bersama tim asalnya, Kentucky Wildcats. Selain itu, Karl juga mencatatkan 2,3 BPG (Block Per Game), serta 10,3 PPG (Point Per Game) selama bermain bersama Kentucky. Dari segi fisik, Karl memiliki wingspan sebesar 7’ 3,25” yang bisa terbilang di atas rata-rata. Meski wingspan Karl masih dibawah Kevin Durant (yang memiliki wingspan sebesar 7’ 5”) dan juga Anthony Davis (7’ 5” wingspan), namun usia Karl yang sekarang baru menginjak 19 tahun memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh dan lebih berkembang di musim-musim yang akan datang.
Karl-Anthony Town (sumber: whenballislife.com)
2.       D’Angelo Russell
Point Guard asal Ohio State Buckeyes ini mendapatkan overall pick ke-2 yang dipilih oleh Los Angeles Lakers. Russell memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk seorang point guard, yaitu dengan postur 6-5 ft/ 180 lb. Yang cukup menarik dari rookie yang satu ini adalah ukuran wingspan-nya yang sebesar 6’ 10”, yang bahkan lebih besar dari John Wall (Washington Wizard) dan Klay Thompson (Golden State Warriors). Dari segi skil, Russell adalah seorang penembak 3 angka serta passer yang cukup baik. Dia mencatatkan .411 3PT% selama bermain bersama Ohio State, 19,3 PPG, 5,7 RPG dan 5,0 APG. Meski beberapa sumber menyebutkan bahwa Russell terbilang kurang eksplosif untuk level NBA, namun Russell memiliki banyak potensi untuk berkembang menjadi seorang bintang NBA. Pertanyaannya adalah, apakah dia mampu untuk melakukan itu bersama tim yang bisa dibilang sedang terpuruk prestasinya saat ini? Mari kita nantikan di musim 2015/16 ini.
D'Angelo Russell (sumber : nba.com)
3.       Jahlil Okafor
Center tim Duke Blue Devils ini mendapatkan overall pick ke-3 yang dipilih oleh Philadelphia 76ers. Okafor memiliki postur yang cukup baik untuk bermain sebagai center di level NBA yaitu 6-11 ft/ 270 lb. Selain itu, Okafor memiliki 7’ 5” wingspan, ya, sama seperti Kevin Durant. Meski Okafor bukanlah seorang pemain cepat dan eksplosif, namuntentu saja ia masih memiliki potensi untuk berkembang di NBA nantinya.
Bersama Duke, Okafor mencatatkan 17,3 PPG, 8,5 RPG, serta 1,4 BPG, suatu statistic yang menjanjikan. Ditambah lagi, Okafor juga mendapatkan banyak prestasi individu saat bermain bersama Duke, di antaranya ACC Rookie Of The Year, ACC Player Of The Year, All-ACC 1st Team, All-American 1st team, dan Wayman Tisdale Award. Okafor termasuk salah satu pemain yang cukup bersinar di ajang NCAA, dan memiliki banyak potensi untuk menjadi seorang bintang di NBA. Mari kita tunggu aksinya di NBA musim 2015/16.
Jahlil Okafor (sumber: basketsession.com)
4.       Kristaps Porzingis
Sebagai salah satu nama rookie yang berasal dari luar Amerika Serikat, Porzingis sebelumnya bermain untuk Baloncesto Sevilla di Spanyol. Ia mendapatkan overall pick ke-4 yang dipilih oleh New York Knicks dan menjadi salah satu pemain termuda di draft ini. Porzingis memiliki postur 7-0 ft/ 240 lb dan ia pun memiliki gaya bermain seperti seorang Pau Gasol (Chicago Bulls). Selain tingkat local, ia juga mempunyai pengalaman di tingkat internasional, yaitu bermain untuk timnas U-18 Latvia. 
Porzingis mencatatkan 11,6 PPG, 4,1 RPG, dan 1,2 BPG selama bermain di Eurocup bersama Sevilla. Porzingis juga dianugrahi Eurocup Rising Star Award tahun 2015.
Kristaps Porzingis (sumber: lockerdome.com)
5.       Mario Hezonja
Shooting Guard yang bermain untuk FC Barcelona Basquet ini mendapatkan overall pick ke-5 yang dipilih oleh Orlando Magic. Mario mempunya postur yang cukup baik yaitu 6-8 ft/ 200 lb, suatu postur yang cukup ideal untuk bermain di wing. Ia juga memiliki power yang cukup besar serta memiliki gayabermain yang cukup eksplosif. Saat bermain di ajang Euroleague, Mario mencatatkan 7,7 PPG, .382 3PT%, serta 1,0 APG.Ia pun sempat menjadi MVP di ajang FIBA Europe Under-16 Championship tahun 2011.
Mario Hezonja (sumber: lockerdome.com)
6.       Willie Cauley-Stein
Center dari Kentucky Wildcats ini mendapatkan overall pick ke-6 yang dipilih oleh Sacramento Kings. Cauley-Stein memiliki postur 7-1 ft/ 240 lb, postur yg cukup baik untuk seorang center. Secara statistik, Cauley-Stein mencatatkan 8,9 PPG, 6,4 RPG, dan .572 FG (Field Goal). Cauley-Stein juga memiliki gaya permainan yang cukup eksplosif. Selain itu, ada fakta yang menarik di mana Cauley-Stein adalah satu-satunya pemain dalam sejarah Kentucky Wildcats yang mampu mencatatkan setidaknya 500 rebound, 200 blocks, dan 100 steals.
Willie Cauley-Stein (sumber: grizzlybearblues.com)
7.       Emmanuel Mudiay
Seorang Point Guard yang sebelumnya bermain untuk Guangdong Tigers ini mendapatkan overall pick ke-7 yang dipilih oleh Denver Nuggets. Dengan postur 6-5 ft/ 200 lb, Mudiay termasuk memiliki postur yang cukup besar untuk seorang point guard. Ditambah permainannya yang cukup eksplosif, Mudiay memiliki potensi untuk menjadi salah satu pemain elit di NBA. Tercatat statistik sebanyak 18,0 PPG, 6,3 RPG, dan 5,9 APG ia hasilkan saat bermain di China. Namun juga terdapat beberapa kelemahan yang dimiliki Mudiay, yaitu  persentase 3 point yang hanya .342 3PT%, masalah efisiensi dalam bermain, serta yang cukup berbahaya adalah masalah cedera ankle yang diderita di akhir musim lalu.
Mudiay memang termasuk salah satu rookie yang cukup menarik untuk disaksikan. Namun pertanyaannya, apakah Mudiay mampu untuk bersaing di level NBA sebagai seorang point guard atau bahkan mampu untuk masuk ke dalam jajaran pont guard elit NBA? Secara fisik dan mental kami berpendapat bahwa dia mampu. Mari kita tunggu aksinya.
Emmanuel Mudiay (sumber: nypost.com)
8.       Stanley Johnson
Seorang small forward dengan postur 6-7 ft/ 245 lb asal Arizona Wildcats ini mendapatkan overall pick ke-8 yang dipilih oleh Detroit Pistons. Johnson mempunyai segalanya untuk bermain di wing. Sebut saja ukuran tubuh, kekuatan, atletisme, serta ketajaman dalam menembak 3 angka. Selain itu, Johnson pun sangat efektif dalam transisi di dalam game serta cukup solid dalam bertahan. Johnson mempunyai catatan menarik, di mana ia termasuk satu di antara hanya dua orang freshman di Divisi I yang mampu mencatatkan rata-rata 13,5 poin dan 6,5 rebound di musim 2014/15, selain Jahlil Okafor. Johnson mencatatkan 13,8 PPG, 6,5 RPG, 1,7 APG, dan .446 FG. Ia juga meraih beberapa prestasi individu, yaitu Julius Erving Award tahun 2015, McDonald All-American tahun 2014, dan MVP FIBA Americas Under-18 Championship tahun 2014.
 
Stanley Johnson (sumber: basketball-society.com)
9.       Frank Kaminsky
Power Forward asal Wisconsin Badgers ini mendapatkan overall pick ke-9 yang dipilih oleh Charlotte Hornets. Kaminsky memiliki postur 7-1 ft/ 242 lb. Footwork dan post moves yang cukup baik merupakan kekuatan Kaminsky. Selain itu, Kaminsky memiliki kemampuan menembak 3 angka serta kemampuan passing yang juga tak kalah baik. Statistik mencatat sebanyak 18,8 PPG, 8,2 RPG, 2,6 APG, serta .416 3PT% telah ia hasilkan. Perlu dicatat, bahwa seorang Kaminsky adalah satu-satunya pemain Divisi I NCAA yang memiliki rata-rata diatas 17 poin, 8 rebound, 1,5 blocks, dan 2 assist di dalam 1 musim.
Frank Kaminsky (sumber: projectshanks.com)

10.   Justise Winslow
Small Forward asal Duke Blue Devils ini mendapatkan overall pick ke-10 yang dipilih oleh Miami Heat. Dengan postur 6-7 ft/ 230 lb, Winslow mempunyai kemampuan menembak 3 angka yang cukup baikIa punmempunyai atletisme tubuh yang cukup baik. Tubuhnya yang sudah terbentuk sebagai seorang pemain profesionalmendukungnya untuk menjadi seorang finisher serta yang juga terbilang bagus dalam melakukan rebound.
        Selama bermain bersama Duke, Winslow mencatatkan 12,6 PPG, 6,5 RPG, 2,1 APG, dan .418 3PT%. Winslow merupakan pemain kidal yang memiliki kemampuan menembak yang cukup baik, serta bisa dibilang cukup cepat dalam transisi. Jika dilihat dengan seksama, Winslow akan mengingatkan kita kepada bintang Houston Rockets, yaitu James Harden.
     
Justise Winslow (sumber: dukebasketballreport.com)
Ranking dalam draft pick tentu saja belum menentukan kalau pemain tersebut akan berprestasi ataupun tidak berprestasi di ajang NBA. Kita ambil contoh pada musim 2014/2015, seorang pemain Kanada yang bermain untuk Kansas Jayhawks bernama Andrew Wiggins, mendapatkan overall pick pertama yang dipilih oleh Cleveland Cavaliers. Walaupun akhirnya Wiggins ditukarkan ke Minnesota Timberwolves, namun Wiggins mampu bersinar di Wolves dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi Wolves. Wiggins mampu mencatatkan 16,9 PPG dengan .437 FG% dan .310 3P%. Wiggins juga mampu meraih penghargaan Rookie Of The Year. Mundur ke satu musim sebelumnya, Anthony Bennet, pemain University of Nevada, Las Vegas menjadi pilihan nomor 1 dari dalam draft yang juga dipilih oleh Cleveland Cavaliers. Namun apa yang terjadi di musim itu? Penghargaan Rookie Of The Year disabet oleh pemain dengan overall pick ke-11, Michael Carter Williams yang dipilih oleh Philadelphia 76ers.
Jadi, kita tunggu saja bagaimana aksi para rookie baru ini sepanjang musim 2015/16 yang akan bergulir besok??

DITULIS OLEH : ISA

Lazio dan Edisi Piala Winners Terakhir

Lazio ketika menjuarai Piala Winners 1999 
19 Mei 1999, stadion Villa Park, Birmingham, Inggris kedatangan dua kesebelasan yang akan bertarung mati-matian memperebutkan edisi terakhir piala winners. Mereka adalah wakil Italia SS Lazio dan wakil dari Spanyol RCD Mallorca. Piala yang telah berlangsung selama 38 tahun itu akan ditiadakan oleh FIFA dan akan digabungkan menjadi satu dengan piala UEFA di tahun berikutnya. Adapun para peserta Piala Winners ini, seperti namanya, adalah para pemenang kompetisi piala (cup competition) dari negaranya masing-masing. Sebagai contoh, Spanyol mengirimkan pemenang Copa del Rey, Italia mengirimkan pemenang Copa Italia, Inggris mengirimkan pemenang Piala FA, dan begitupun juga dengan negara-negara Eropa lainnya.

Di Villa Park, para pemain dari Lazio dan Mallorca terlihat memasuki lapangan.
Lazio yang pada saat itu menggunakan kostum berwarna kuning memang sedang dihuni oleh pemain-pemain top dunia seperti Nesta, Mihajlovic, Mancini, Nedved hingga Vieri. Yang menarik adalah dijadikannya Roberto Mancini menjadi center midfielder pada pertandingan kali ini.  Ya, memang ketika di tahun-tahun terakhirnya menjadi pemain sepakbola, Mancini memang lebih sering memainkan peran sebagai gelandang tengah, ketimbang posisi aslinya sebagai striker. Sementara dari wakil Spanyol, Mallorca dihuni oleh kiper timnas Argentina di piala dunia 1998, Carlos Roa. Match ini jelas akan menjadi pertandingan yang tidak mudah bagi Lazio, mengingat lawan mereka berhasil lolos ke final dengan mengandaskan wakil Inggris, Chelsea.

Kickoff dimulai, pertandingan berjalan dengan tempo lumayan cepat. Tidak disangka, di menit ke-7 sudah ada gol yang tercipta bagi kesebelasan Lazio. Christian Vieri, striker timnas Italia itu berhasil mencetak gol lewat tandukan mematikannya. Umpan jauh yang dilesakkan Guiseppe Favalli dari sisi kanan berhasil ia konversi menjadi gol dengan lompatannya yang lebih tinggi dari kapten Mallorca, Javier Olaizola. Javier tadinya terlihat berada pada posisi yang lebih menguntungkan untuk menghalau bola, namun kalah duel dengan Vieri. Papan skor berubah menjadi 1-0 untuk wakil Italia yang saat itu dilatih oleh pelatih asal Swedia, Sven-Goran Eriksson.

Mallorca pun bereaksi cepat, para pemain didikan Hector Cuper itu tak butuh waktu lama. Empat menit kemudian, tepatnya di menit ke-11, striker Los Bermellones, Dani Garcia, berhasil menyamakan kedudukan dengan sontekannya. Berawal dari penetrasi yang dilakukan Jovan Stankovic dari sisi kanan pertahanan Lazio yang tak mampu dikejar oleh Guiseppe Pancaro, pemain asal Serbia-Montenegro itu berhasil mengirim umpan mendatar kepada Dani Garcia yang lepas dari pengawalan Sinisa Mihajlovic. Papan skor pun berubah menjadi 1-1 dan skor imbang bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Sergio Conceicao dimasukkan untuk menambah daya gedor tim biru langit. Di menit ke-78 terjadi kejadian menarik, di mana karena keasikan menyerang, Pavel Nedved tidak melihat Atillio Lombardo yang sudah bersiap di pinggir lapangan untuk menggantikannya. Saat pertandingan sepertinya akan dilanjutkan hingga memasuki babak perpanjangan waktu, pada menit-80, Lazio membangun serangan yang begitu cepat. Marcelo Salas yang membangun serangan dari second line sebelah kiri, mengirim umpan mendatar kepada Christian Vieri yang berada di sisi kiri pertahanan Mallorca. Mendapatkan peluang, striker dengan nomor punggung 32 itu langsung menembakkan bola ke arah gawang Carlos Roa. Bukannya mengarah ke gawang, bola malah melambung ke atas karena terkena pantulan pemain bertahan Mallorca. Namun tepat di sebelah kiri Vieri muncul gelandang tenaga kuda dari Rep. Ceko, Pavel Nedved, yang dengan sigap menembakkan tendangan Canon Ball-nya. Dan... Gol!!! Para pemain Lazio berhamburan memeluk gelandang Rep. Ceko itu. Skor kembali berubah 2-1 untuk Lazio.

Di menit ke-84, Pavel Nedved akhirnya digantikan Atillio Lombardo, Skema bertahan pun dijalankan. Mallorca mencoba membalas di sisa waktu yang ada. Tapi tebalnya tembok pertahanan Lazio memang sangat sulit untuk ditembus. Ditambah lagi di menit-90, masuknya Fernando Couto menggantikan Roberto Mancini membuat semakin tebalnya tembok pertahanan Lazio yang tentu saja semakin sulit untuk ditembus oleh Mallorca. Hingga peluit panjang babak kedua dibunyikan, skor 2-1 untuk kemenangan Lazio bertahan. Piala Winners edisi terakhir pun menjadi milik Bincocelesti, sebuah piala yang tak akan pernah diperebutkan lagi oleh klub manapun. Sebuah pertandingan final yang cukup menarik. Atmosfir penonton yang luar biasa dan para pemain kedua kesebelasan yang bermain dengan tempo yang cukup cepat, membuat pertandingan ini begitu berbekas bagi para pencinta sepakbola.

Keputusan UEFA untuk meleburkan piala winners dan UEFA cup menjadi satu pada musim 1999-2000 membuat saya begitu merindukan piala para juara tersebut. Piala ini begitu spesial bagi saya, karena hanya diperebutkan oleh para juara saja. Para juara yang saling serang untuk menjadi pemenang. Selamat Lazio, sang juara dari para juara benua biru yang terakhir.

Formasi :
Formasi Lazio ketika Piala Winners 1999

Formasi Mallorca ketika Piala Winners 1999


DITULIS OLEH : ANDIK

Senin, 26 Oktober 2015

Drama Valentino Rossi vs Marc Marquez di Sepang

Insiden Valentino Rossi dan Marc Marquez (sumber: indobolanews.com)
Dramatis. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan motoGP seri Sepang 2015. Betapa tidak, sejak sesi press conference Kamis 22 Oktober, Valentino Rossi –pada saat itu memimpin klasemen dengan selisih 11 poin- yang biasanya kalem dan tidak pernah menyerang pembalap lain secara frontal, tiba-tiba saja menyerang Marc Marquez dengan tuduhan “membantu Lorenzo untuk mendapatkan gelar Juara Dunia 2015” sewaktu di Phillip Island.

“Jika kita memiliki balapan seperti Phillip Island lagi, kita harus berbicara dengan Marquez, sebab selama balapan hal ini sulit dimengerti. Namun setelah aku menonton rekaman ulang setelahnya, jelas bahwa dia memang bermain-main dengan kita,” ujar Rossi. “Karena saya curiga target dia saat ini tidak hanya memenangkan race, tapi juga membantu Lorenzo mendapatkan lebih banyak poin. Jadi bagiku Phillips Island jelas, Jorge mendapatkan pendukung baru, dan dia adalah Marc. Dan ini mengubah segalanya. Karena saya yakin, Marc memiliki potensi untuk menjauh sendirian di depan tapi itu tidak dilakukannya,“ lanjut Rossi seraya tersenyum. 

Tuduhan Rossi ini tidak main-main, dia bahkan juga telah menyiapkan timesheets ketika wawancara dengan wartawan Italia, untuk menunjukkan laju Marquez yang memang terlihat lebih pelan di tengah balap. Tidak hanya Rossi yang punya kecurigaan yang sama, Andrea Iannone, pembalap asal tim Ducati pun juga mengamini pernyataan Rossi.

“Saya yakin, Marquez juga bermain-main dengan kami. Karena setelah 15 lap, tikungan kelima, laju dia semakin pelan, dan saya melewatinya dengan sangat mudah. Saya tidak tahu kenapa seperti itu,” ucap Iannone dengan serius.

Tuduhan-tuduhan ini tentu saja menjadi masuk akal apabila kita mengingat fakta bahwa jika The Doctor mendapatkan gelar juara dunia kesepuluhnya tahun ini maka tentu saja ini akan menjadi tambahan beban buat Marquez untuk memecahkan rekornya. Lain halnya jika Lorenzo yang memenangkannya. Toh dengan umur enam tahun lebih muda, Marquez bisa menyamai rekor juara dunia Lorenzo dengan empat kali juara dunia hingga sekarang.

“Di Laguna Seca 2013 banyak yang memperingatkan saya, Marc ingin menunjukkan apa yang telah saya lakukan kepada Stoner lima tahun sebelumnya, padahal dia mempunyai kesempatan melewati dengan mudah di tikungan lain. Itu merupakan sinyal pertama. Tapi (pada saat itu) saya tidak ingin mempercayainya,” Kata Rossi kepada jurnalis Italia.

Mencoba membandingkan dengan rival-rival sebelumnya, Rossi menambahkan lagi, “Saya lebih suka perilaku Biaggi, meskipun kami  terlihat panas di lintasan paling tidak posisi kami jelas dan jujur.”

Sesi Kualifikasi 2
Konspirasi seakan tidak berhenti setelah Rossi melakukan serangan frontal di sesi press conference. Marquez justru melanjutkan aksinya di sesi kualifikasi dengan membiarkan Lorenzo di belakangnya, hal ini tentu saja menguntungkan Lorenzo karena slipstream.

Ada hal lucu yang terjadi di sesi kualifikasi ini. Lorenzo sempat mengira dirinya mendapatkan P3, dan dengan pede-nya masuk Parc Ferme, namun dihalau sama panitia karena ia ternyata hanya mendapatkan P4, setelah beberapa detik sebelum sesi kualifikasi selesai The Doctor-lah yang berhasil mengamankan untuk start dari baris depan bersama Pedrosa dan Marquez.

Jalannya Balapan
Minggu pagi diawali dengan WUP di mana Marquez berhasil mencatatkan waktu tercepat, sementara Lorenzo, Valentino Rossi, dan Pedrosa mengikuti di belakangnya dengan selisih waktu masing-masing 0.319; 0.562; 0.701, berturut-turut.

Balapan dimulai dengan duo Honda yang langsung melesat di tikungan pertama, diikuti Rossi dan Lorenzo yang sebelumnya berhasil menyalip duo Ducati. Pada lap kedua, Lorenzo mampu menekan The Doctor untuk mengambil alih posisi ketiga. Sementara Andrea Iannone terpaksa menghentikan balapan karena terdapat masalah pada motornya.

Pada lap ketiga, Lorenzo berhasil menyalip Marquez dengan mudah, yang merupakan hal   aneh mengingat saat WUP Marquez mencatatkan waktu tercepat, dan berdasarkan timesheet, terlihat jelas  catatan waktu Marquez melambat. (timesheet

lap times Rossi, Marquez, Pedrosa, dan Lorenzo.
Duel sengit terjadi setelah Marquez berada di depan Rossi. Berkali-kali salip-menyalip, seolah Marquez tidak rela posisinya diambil Rossi. Sampai pada lap ketujuh, insiden terjadi. Rossi sengaja melambatkan laju motornya untuk menutup ruang gerak Marquez, namun ia mendapatkan reaksi yg sepertinya tidak terduga . Marquez tampak menyundul  kaki Rossi dengan helmnya, entah disengaja atau tidak, kemudian kaki Rossi pun terlihat reflek bergerak, hingga Marquez tersungkur dari motor dan menghentikan balapan. Aneh, seorang Marquez yang biasanya ambisius, terlihat biasa saja ketika jatuh, tanpa ekspresi kecewa yang biasanya ditunjukkan ketika jatuh. Meskipun motornya masih bisa melaju, tapi ia langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan balapan.

Insiden Rossi - Marquez di Sepang 
Sampai berakhirnya balap, Pedrosa tidak tersentuh di posisi terdepan, diikuti Lorenzo dengan selisih lebih dari 2 detik dan Rossi di belakangnya.

Post Race
Race Direction memutuskan bahwa Rossi bersalah dalam insiden tersebut.
“Reaksi Valentino terhadap provokasi Marc Marquez menyebabkan pembalap lain crash. Kami percaya sentuhan tersebut disengaja meskipun dia tidak ingin menjatuhkan Marquez dan hanya ingin membuatnya melebar. Tentang kaki Rossi yang sempat lepas dari foot-peg dari video yang kami lihat tidak ada bukti jelas ke arah sana. Kami melihat sebagai efek senggolan dan bukan merupakan kesengajaan.” Terang Mike Webb, Race Direction.

“Kami juga merasakan Marquez berusaha mempengaruhi kecepatan Valentino. Tapi bagaimanapun, dari sisi regulasi dia tidak melanggar peraturan” lanjut Webb.

Untuk insiden tersebut, Rossi mendapatkan 3 poin penalti. Hal ini berarti menggenapkan poin penalti yang ia dapatkan menjadi 4, setelah sebelumnya juga mendapatkan penalty 1 poin di Misano, sehingga harus memulai balapan dari posisi buncit di seri terakhir yang akan berlangsung di Valencia nanti. Tentu saja hal ini menyulitkan –jika  tidak bisa dibilang memupuskan- The Doctor meraih gelar juara dunianya yang kesepuluh.

“Marquez telah memenangkan ini. Dia membuat saya kehilangan kesempatan untuk juara dunia,” ucap Rossi beberapa saat setelah balapan.
Buat beberapa fans, tentu saja respek kepada The Doctor tidak akan hilang karena insiden ini. Once a hero, always be a hero.


DITULIS OLEH : ICHSYAN